Jurnalis tulen itulah Mauluddin Anwar. Sebelum menjadi Head of News Production Liputan 6 SCTV, alumni Gontor tahun 1987 ini pernah bekerja sebagai News Producer di Metro TV (2000–2005).
Selain berkarir di televisi, adik dari Master Kaligrafi Indonesia, Didin Sirojuddin AR, ini pernah juga menjadi editor di Gema Insani Press (August-December 1994), reporter Majalah Gatra (1994–1998), dan editor di Majalah Gamma (1999–2000).
Bagi Awan, panggilan akrab Mauluddin, liputan konflik Timur Tengah menjadi langganannya.
Di antara pengalamannya adalah perang antara Lebanon dengan Israel tahun 2006. Liputan 6 menugaskan Awan bersama juru kamera Andi Patra. Bukan perkara mudah masuk ke negara yang tengah berkonflik, namun Awan justru masuk ke Lebanon. Awan bisa mewawancarai Menteri PU dan Transportasi Lebanon Mohammad Safadi dan Presiden Lebanon Emile Gemail Lahoud.
Pada hari-hari itu, Lahoud hanya memberikan wawancara khusus untuk Aljazeera, Al-Arabiya, sebuah TV Brazil, dan Liputan 6 yang ditayangkan 24 Agustus 2006 yang bertepatan dengan ulang tahun ke-16 SCTV.
Selain itu Awan juga pernah ditugaskan ke Jalur Gaza. Usut punya usut rupanya berkat bahasa Arab dan latar belakang pendidikannya itulah yang mengantarkan dirinya berkeliling ke negara-negara Timur Tengah.
“Saya menyukai dunia tulis menulis karena Gontorlah yang menciptakan itu. Pokoknya pas lari pagi keluar dari barisan karena kelelahan begitu diberi tugas untuk bikin majalah dinding wah itu saya semangat sekali. Selain itu, biasanya kalau akhir tahun atau pertengahan tahun suka diminta untuk terlibat dalam penulisan rapor. Kebetulan ikut kena titisan kaligrafi dari kakak saya. Jadi keluarga saya 4 di Gontor yang 3 ini jago menulis kaligrafi. Namun, saya tidak lanjut di kaligrafi, tetapi saya lebih ke dunia penulisan. Yang paling sering ya menulis di majalah dinding. Tulis menulis lalu saya tekuni hingga lanjut di bangku kuliah,” tutur Mauluddin Anwar kepada Gontornews.com.
Awan mengaku, saat semester satu di Fakultas Adab IAIN Jakarta (kini UIN Jakarta) ia banyak diajari oleh kakaknya, Didin Sirojudin AR yang ketika itu wartawan Panji Masyarakat. “Sebelum kakak saya membaktikan hidupnya ke kaligrafi, saya banyak diajari beliau untuk menyalurkan hobi menulis.
Selain itu saya juga menerjemahkan sejumlah tulisan rubrik dunia Islam, profil-profil perkembangan Islam di berbagai belahan dunia. Itu dari majalah Arab dan Inggris, saya terjemahkan. Saya masih ingat ketika itu yang saya menulis soal India yang banyak masjid tapi justru umat Islamnya lebih sedikit,” katanya.
Awan bercerita, dari situ kemudian ia berpikir, “Wah kalau hanya menerjemahkan, saya tidak akan berkembang.”
Akhirnya, ia menulis sendiri dari hasil perjalanan. Saat kuliah di jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN ada tugas studi lapang ke tempat-tempat bersejarah. Jika teman-temannya hanya membuat laporan untuk kampus, ia juga menulis untuk dikirim ke koran Harian Pelita.
“Di Republika saya juga menulis. Waktu itu awal-awal Republika berdiri,” paparnya.
“Setelah sidang skripsi kebetulan ada dosen yang suaminya kerja di Gema Insani Pers. Saya ditawari untuk jadi editor di sana. Di Gema Insani 3 bulan. Kemudian saya lihat kalau tidak salah Kompas, ada iklan kecil tertulis membutuhkan wartawan untuk majalah cetak waktu itu. Tapi, saya tidak tahu majalah apa. Yang jelas waktu itu Tempo dan beberapa media lain dibredel. Nah ternyata ini Majalah Gatra gantinya Tempo. Lalu saya apply dan keterima. Salah satu alasannya itu karena di CV ada keterangan bisa bahasa Arab. Bahasa Arab itu ya dari Gontor, kemudian ia tertariknya juga karena pesantren Gontornya.”
Awan merasa Gontor sangat berjasa menamkan nilai-nilai yang ia anut sekarang ini. Bahkan termasuk dalam kegiatan jurnalistik. Ketika berjalan ke mana-mana, itu juga salah satu kelebihan yang boleh jadi tidak dimiliki oleh sebagian besar wartawan lain adalah soal bahasa. Orang lain bisa bahasa Inggris, Prancis dan bahasa-bahasa lain. Tetapi wartawan yang bisa bahasa Arab itu hanya sedikit. “Itulah yang kemudian menerbangkan saya ke Timur Tengah dari tahun ke tahun. Sementara teman-teman yang lain yang bisa bahasa Inggris mungkin keluar negeri tapi gantian dengan kawan-kawan yang lain. Kalau saya dalam setahun bisa beberapa kali berkat bahasa,” bebernya.
Selain itu di manapun Awan datang selalu bertemu dengan teman-teman Gontor. “Kita tahu di Gontor tidak ada hirarki periode. Ketika kita sebut sama-sama alumni Gontor, bahkan ketika di Gontornya setahun dua tahun kita tetap khirrij. Tidak lagi ada hirarki yang harus undah-unduh. Kita tetap kawan. Kegontorannya itu sangat membantu dari sisi ukhuwahnya. Nilai-nilai Panca Jiwa itu betul-betul saya rasakan ketika sudah keluar dari Gontor. Ketika sedang di Gontor mungkin ada di kepala saja. Begitu sudah keluar, oh ini maksudnya kenapa ada kursus ini, ada kursus itu. Itu cara pesantren untuk menyalurkan hobi masing-masing santri,” ungkap Awan yang bekerja di SCTV selama 11 tahun itu. (Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus)

















