Jakarta, Gontornews — Aksi Bela Islam 2 Desember 2016 yang dikenal dengan sebutan Aksi 212 merupakan peristiwa yang takkan terlupakan dan telah menjadi bagian dari tonggak sejarah umat Islam di Indonesia. Bagaimana tidak, di hari itu jutaan umat memenuhi kawasan Monumen Nasional (Monas) Jakarta dan sekitarnya, menyatakan sikap dan kecintaan mereka kepada Allah dan al-Qur’an.
Mereka datang dari berbagai wilayah di Indonesia, dengan berbagai cara dan melewati berbagai rintangan, untuk turut hadir menyatakan pembelaan mereka terhadap al-Qur’an, dan pada hari itu aksi berjalan dengan sangat damai dan santun.
Beberapa pihak mengakui bahwa gerakan umat Islam di Aksi 2 Desember atau yang disebut juga Aksi 212 dan Aksi Bela Islam III itu merupakan salah satu sejarah yang patut untuk diabadikan dalam sebuah film.
Peristiwa menggetarkan ini pun diangkat oleh rumah produksi Warna Pictures lewat film layar lebar perdananya yang berjudul: “212, The Power of Love” dan film ini rencananya akan tayang pada tanggal 9 Mei 2018 serentak di seluruh bioskop di Tanah Air.
Associate produser film 212 The Power of Love Imam Teguh Saptono mengatakan, film 212 ini dibuat untuk memorabilia peristiwa 212 yang begitu fenomenal dan sarat nilai-nilai aqidah itu.
Selain itu, film yang dibuat sejak triwulan akhir tahun lalu, kata Imam, juga bertujuan untuk meluruskan stigma dari sekelompok masyarakat tertentu yang beranggapan bahwa aksi 212 sarat dengan muatan politik bahkan upaya makar.
“Dalam film ini disampaikan pesan bahwa 212 adalah aksi yang didasari rasa kecintaan yang hakiki umat terhadap ajaran agamanya,” ungkapnya kepada Gontornews.com.
Menjelang penayangan film ini rencananya akan ada penjualan tiket presale hingga 5 Mei 2018 nanti. Adapun keuntungan dari penjualan tiket tersebut nantinya akan didonasikan untuk kegiatan pemberdayaan umat serta dana kemanusiaan baik di dalam maupun luar negeri. [Muhammad Khaerul Muttaqien]



















