Pristina, Gontornews – Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, meminta kepada Serbia agar merestui kemerdekaan Republik Kosovo. Rencananya, Kosovo akan diangkat menjadi anggota baru negara-negara Eropa atau Uni Eropa.
Kosovo mendeklarasikan kemerdekaannya pada 17 Februari 2008 setelah NATO membombardir Serbia yang melakukan pembunuhan dan pengusiran etnis Albania dalam perang yang terjadi pada tahun 1998-1999 di Kosovo.
“Jika Serbia ingin pindah ke EU, mereka harus menerima kesepakatan dan menerima kemerdekaan Kosovo,” ungkap Gabriel saat melakukan konferensi pers bersama Presiden Kosovo, Ramush Haradinaj, di Pristina, Rabu (14/2).
Serbia mencanangkan untuk bergabung ke dalam keanggotaan UE pada 2025 dan menganggap bahwa permintaan agar Serbia mengakui kemerdekaan Kosovo bukan syarat utama keanggotaan UE. Bahkan, Menteri Pertahanan Serbia, Aleksander Vulin, meminta Belgrade dan Pristina membubarkan Kosovo.
“Tentu saja, keanggotaan UE menjadi tujuan akhir. Salah satu syarat untuk memenuhi tujuan tersebut adalah dengan membujuk lima negara UE agar tidak mengakui Kosovo sebagai bagian dari Serbia. Pengakuan itu masuk akal,” kata Gabriel kepada Reuters.
“Keanggotaan UE adalah situasi yang menguntungkan bagi semua,” tambahnya.
Sejak merdeka 10 tahun silam, kedaulatan Kosovo telah diakui oleh 115 negara, termasuk 23 dari 28 negara merupakan anggota UE. Meski demikian, keanggotaan Kosovo di PBB telah diblokir oleh Cina dan Rusia, yang merupakan sekutu Serbia.
Setidaknya sekitar 120.000 warga Serbia di Kosovo masih mengakui Belgrade sebagai ibukota Kosovo. Mereka pun masih mendapatkan sokongan finansial dari Serbia.
Jerman, merupakan satu dari sejumlah negara besar yang mengakui kemerdekaan Kosovo. Selain Jerman, Amerika Serikat, Prancis dan Inggris mengakui kemerdekaan Kosovo sekaligus menjadi investor terbesar di negara mayoritas Muslim tersebut. [Mohamad Deny Irawan]


















