California, Gontornews — Tim NASA dan ESA belum lama menangkap jejak cahaya misterius. Cahaya tersebut diduga berasal dari jarak 27,6 milyar tahun cahaya. Ini tentu saja mengejutkan mengingat umur alam semesta sendiri diperkirakan sekitar 13,8 milyar tahun cahaya.
Penemuan cahaya dari jarak sangat jauh, sekitar dua kali umur alam semesta tentu memberi banyak implikasi. Pertama, membuka peluang revisi umur alam semesta. Kedua, revisi umur semsta bermakna perlunya revitalisasi teori Big Bang yang selama ini menjadi sandaran ilmiah dasar perhitungan dan pemodelan penciptaan alam semesta.
Selain itu, tulis Ethan Siegel dalam majalah Forbes (Februari 2018), cahaya misterius itu mengisyaratkan bertambahnya luasan alam semesta. Jika jaraknya 27,6 milyar tahun cahaya, maka alam semesta kini diketahui berdiameter 45,2 milyar tahun cahaya. Berapa luas alam semesta, pasti lebih besar lagi. Jika alam semesta ini berbentuk bola, maka volumenya akan mencapai sekitar 88,103 trilyun tahun cahaya.
Ketika umur semesta sekitar 13,8 milyar tahun cahaya, alam nyata yang berhasil dipahami manusia baru sekitar 5% saja. Sisanya, 95% adalah masalah ghaib dalam bentuk materi gelap (dark matter) dan energi gelap (dark energy). Jadi, betapa kecilnya pengetahuan manusia terhadap alam jagat raya yang maha luas itu.
Pertanyaan berikutnya, Ethan Siegel, pakar astrofisika dan penulis Starts With A Bang! dan Treknology and Beyond The Galaxy, adalah apa yang terjadi sebelum Bag bang? Sebuah pertanyaan rumit dan pelik yang perlu dijawab para ilmuwan ke depan.[DJ]


















