Moskow, Gontornews – Presiden Rusia, Vladimir Putin, akan kembali dilantik sebagai Presiden Rusia, Senin (7/6). Untuk keempat kalinya Putin berhasil menjabat sebagai Presiden Rusia dan akan memperpanjang masa jabatan enam tahun ke depan.
Pengambilan sumpah pemimpin berusia 65 tahun itu akan dilakukan dalam upacara di Grand Kremlin Palace di ibukota, Moskow. Artinya, ia sudah berkuasa selama 18 tahun.
Putin dengan mudah berhasil memenangkan pemilihan pada bulan Maret lalu, dengan perolehan 76 persen suara.
Sementara, calon dari Partai Komunis, Pavel Grudinin, berada pada urutan kedua dengan perolehan suara 11,8 persen, dan diikuti oleh nasionalis Vladimir Zhirinovsky dengan 5,6 persen.
“Saya merasa apa yang diperoleh saat ini adalah hasil yang saya lakukan pada tahun lalu dalam keadaan yang sangat rumit,” kata Putin dalam pidato kemenangannya di hadapan ribuan pendukungnya di Alun-Alun Manezhnaya dekat Kremlin.
“Saya akan memegang kepercayaan dan harapan ini dan kami akan terus bekerja secara intens dan bertanggung jawab,” lanjutnya seperti dikutip Aljazeera.
Sebelumnya, Ahad (6/5), Putin melakukan pembicaraan dengan anggota pemerintah. Dalam pembicaraan tersebut, Putin akan bertanggung jawab atas tantangan utama dan tugas yang terbentang di depan dalam masa jabatan berikutnya.
“Secara umum, tugas utama kami untuk beberapa tahun ke depan adalah peningkatan pendapatan riil warga negara yang signifikan,” katanya.
Setelah dilantik, Putin akan memiliki hak untuk menunjuk calon Perdana Menteri yang akan dipilihnya.
Citra “macho-man” telah mendorong popularitas Putin di dalam negaranya dan dia telah berupaya keras untuk menegaskan citra Rusia di luar negeri.
Ia juga telah mendukung pemerintah Presiden Bashar al-Assad dalam perang jangka panjang Suriah.
Bahkan Majalah Forbes telah menyebut Putin sebagai orang terkuat di dunia selama empat tahun berturut-turut.
Sementara itu, Sabtu (5/5) ribuan orang Rusia turun ke jalan untuk memprotes pelantikan Putin dengan membawa spanduk “Dia bukan Tsar kami!” di 90 kota di seluruh negeri.
Demonstrasi itu diorganisir oleh aktivis oposisi Alexey Navalny. Navaly adalah aktivis yang berada di antara 1.600 orang yang ditahan oleh polisi dalam unjuk rasa anti-Putin, namun kemudian dibebaskan. (Devi Lusianawati)


















