Kalau hanya ingin enak saja, takut kesulitan, takut kesukaran hidup, apa saja tidak akan tercapai.
Jangan kecil hati, jangan edan-edanan, saya tidak anti kalau nanti anak-anakku menjadi mahasiswa, menjadi sarjana, kemudian menjadi pegawai, jadi buruh, gajinya sebulan dua puluh lima ribu sampai lima puluh ribu rupiah (dengan kurs 3 rupiah setara dengan satu kuintal padi—red).
Tetapi jangan ke sana tekanannya, jangan terlalu menggarisbawahi ke sana, sampai-sampai lupa pada tugasnya.
Kalau orang sudah menjadi pegawai, mati otaknya. Ini tidak semua, tapi pada umumnya. Sudah sekolah setengah mati, masuk tsanawiyah terus ke Gontor, lalu menjadi mahasiswa, akhirnya menjadi pegawai, lupa segalanya.
Kitabnya tidak dibaca lagi, tabligh tidak mau, nasib rakyat tidak dipedulikan, hanya kumpul dengan anak-istrinya. Khianat, khianat!
Hidupnya hanya akan menghitung- hitung tanggal berapa ini? Kurang berapa hari lagi sebulan? Kapan naik pangkatnya? Kapan naik gajinya? Kapan ini? Kapan itu? Hidupnya jor-joran dengan kawan-kawannya. Na’udzubillah.
Sudah sekian lamanya belajar agama, seperti tafsir, hadis, dan lainnya. Tidak untuk mengurus tabligh, tidak untuk mengajar, tidak untuk apa-apa. Hilang setelah menjadi pegawai. Sudah lupa kepada masyarakat, lupa kepada nasib negara, lupa nasib agama. Masih untung kalau masih mau sembahyang atau Jumatan. Itulah pegawai.
Boleh dilihat, jadi pegawai sepuluh atau dua puluh tahun belum bisa membeli rumah. Itu biasa, paling-paling punya kalung sebentar, cincin sebentar, Honda sebentar.
Jangan sampai anak-anak sekalian menyandarkan warisan orangtua, warisan tidak memberkahi, anggaplah tidak akan menerima warisan. Hidup harus self help, berani menolong diri sendiri.
Maka kalau hanya menyandarkan pada orangtua itu kere, pengemis. Kalau memang jantan, tidak usah menerima warisan, seperti Trimurti, Pak Sahal, Pak Zarkasyi, Pak Fanani. Ayah saya hanya mempunyai sawah, tidak lebih dari satu hektar, tapi anak-anaknya seperti saya, Pak Lurah, Pak Fanani, Pak Zarkasyi, dan lainnya sabar.
Pegang sabit, pegang cangkul, betul-betul petani. Pak Lurah Sepuh, ayahnya Pak Muhsin juga mencangkul. Saya pun demikian, tetapi tidak kecil hati.
Zaman dulu, kalau orang sudah sekolah Belanda itu merasa menjadi ningrat, merasa sudah terpandang, orang maju, orang yang cerdas karena sekolah di sekolah Belanda. Tapi ayah saya tidak demikian, ayah saya seorang kiai desa, tetapi terpandang, jujur, adil dan dicintai.
Menjadi murid atau santri Pondok Modern jangan kecil hati. Kamu itu belum apa-apa, besarkan hatimu. Yen wanio ing gampang, wedhio ing pakewuh, sabarang ora kelakon. Ini wasiat Ramayana.
Artinya, kalau hanya ingin enak saja, takut kesulitan, takut kesukaran hidup, apa saja tidak akan tercapai. Hidup adalah perjuangan. Lieben is treigen. Itulah manusia hidup di dunia, jangan takut hidup. Ini yang harus dipegang mulai sekarang.
Yang lebih penting lagi adalah jujur, percaya kepada Allah, jangan kecil hati. Inilah yang saya amanatkan, amanat yang saya pidatokan, yang pertama kali mengenai iqtishadiyyah, mengenai ekonomi, pangupa jiwa, golek sandang pangan, sangune urep.
Jangan sampai anak-anakku iri kepada kawan-kawannya yang menjadi pegawai, iri kepada yang mendapat gaji.
Sekali lagi jangan kecil hati, jangan salah niat. Ini yang saya tanamkan pertama kali kepada anak-anakku sekalian.
Jangan takut hidup, yang penting iman kuat, jaga kehormatan. In syaa Allah cukup rezeki. Ini saja anak-anakku, mudah-mudahan ada manfaatnya, ada berkahnya untuk hidup dunia akhirat, dan husnul khatimah. []





















