Valletta, Gontornews — Kapal Jerman, Lifeline, yang membawa setidaknya 234 pengungsi dan migran dan terjebak di laut selama hampir satu minggu berlabuh di Malta pada hari Rabu (27/6).
Seperti dirilis Aljazeera, para pemimpin Uni Eropa (UE) berdebat tentang nasib mereka.
Kapal kemanusiaan itu berlabuh di ibukota Malta, Valletta, pada hari Rabu, setelah delapan negara setuju untuk menampung mereka.
Namun, begitu kapal mencapai daratan, kapal itu diperintahkan disita, dan kapten kapal Jerman, Claus-Peter Reisch, dijadikan tersangka karena diduga melanggar peraturan maritim.
Pemerintah Malta mengatakan Lifeline tidak terdaftar sebagai kapal pencari dan penyelamat migran. Selain itu, kapal tidak mematuhi perintah penjaga pantai Italia, dan sering mematikan transponder untuk menyamarkan posisinya. Hal ini meningkatkan kecurigaan bahwa kapal itu dengan sengaja membantu penyelundup.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengkritik kapten kapal itu. Dia mengatakan, kapal itu bertindak melawan semua aturan karena tidak membawa para pengungsi ke Libya setelah mereka ditemukan mengambang di perahu karet di perairan Libya.
Kepala misi mengatakan otoritas Italia membuka penyelidikan terhadapnya, dan mencurigai motif politik di bawah pemerintahan anti-migrasi baru di Roma, karena Lifeline beroperasi tanpa masalah tahun lalu.
“Kami memulai tahun lalu pada bulan September dan kami mulai di sini di Malta juga. Kami memiliki lima misi dengan kapal ini tahun lalu dan menyelamatkan 549 orang,” kata Axel Steier, kepala misi Lifeline, kepada wartawan di Valletta. [Rusdiono Mukri]






















