Ankara, Gontornews — Turki mengatakan pihaknya bersedia dialog dengan AS untuk menyelesaikan perselisihan yang sedang berlangsung antara dua sekutu NATO itu.
Demikian dikatakan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu kepada para duta besar asing di Ankara, Rabu (16/8) malam.
“Terlepas dari segalanya, kami siap untuk berbicara tentang segalanya untuk memecahkan masalah yang ada sebagai mitra yang setara,” katanya dikutip Aljazeera.
“Saya berbicara secara terbuka tetapi hanya dengan satu syarat – tidak mengancam, tidak mendikte.”
Cavusoglu juga meminta AS untuk “mempertimbangkan kekecewaan kami” dengan kebijakan-kebijakan Amerika.
Pernyataan damai Cavusoglu muncul ketika Washington mengatakan bahwa kenaikan tarif atas baja dan aluminium Turki tidak terkait dengan kasus Andrew Brunson, pendeta evangelis Kristen yang ditahan di Turki atas tuduhan terorisme, dan akan tetap diberlakukan bahkan jika dia dibebaskan.
“Tarif yang diberlakukan masih tidak akan dihapus dengan dikeluarkannya Pastor Brunson,” kata sekretaris pers Gedung Putih Sara Huckabee Sanders.
“Tarifnya khusus untuk keamanan nasional,” katanya, tanpa menyebutkan sifat masalah keamanan nasional yang dimaksud.
Pekan lalu, Trump mengumumkan kenaikan tarif impor barang-barang dari Turki. Baja naik 50 persen dan aluminium 20 persen.
Kenaikan ini menyusul sanksi terhadap dua menteri Turki awal bulan ini yang menurut Sanders terkait langsung dengan Brunson dan “orang lain yang ditahan secara tidak adil”. [Rusdiono Mukri]



















