Sana’a, Gontornews – Tim investigasi PBB mengatakan bahwa aliansi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mengganggu kinerja para tim ahli dalam mengungkapkan adanya pelanggaran HAM di Yaman.
Kepala tim penyelidik yang diamanatkan PBB, Kamel Jendoobi menyatakan, pihaknya telah menemukan sejumlah kasus pelanggaran HAM selama konflik berlangsung. Diketahui, seluruh pihak yang terlibat perang memiliki andil dalam pelanggaran tersebut.
“Berdasarkan laporan bulan Agustus, bahwa pihak-pihak dalam konflik bersenjata di Yaman telah melakukan sejumlah besar pelanggaran hukum humaniter internasional,” jelasnya kepada Aljazeera.
Akibat konflik yang melanda, kini Yaman berada di ambang kelaparan. Akibat tidak bisanya masyarakat Yaman mengakses bantuan.
Selain itu, pelanggaran yang ditemukan tim investigasi yang masuk dalam katagori pelanggaran HAM adalah penahanan sewenang-wenang yang dilakukan secara luas, perkosaan, penyiksaan dan perekrutan anak-anak di bawah umur untuk diikutsertakan dalam perang.
“Kami telah melakukan pekerjaan yang profesional, netral dan obyektif,” kata Jendoobi.
Laporan tersebut juga mengatakan, serangan udara yang dilakukan koalisi militer Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah menyebabkan banyak korban sipil. Blokade pelabuhan Yaman dan wilayah udara juga memungkinkan terjadinya pelanggaran hukum humaniter internasional.
Namun sampai saat ini, Aliansi tersebut telah berulang kali membantah tuduhan tersebut. Mereka mengklaim jika serangannya tidak ditujukan pada warga sipil namun kelompok Houthi yang merupakan target perang.
Sedangkan, data yang dikumpulkan dan dari Proyek Data Yaman telah menemukan hampir sepertiga dari 16.000 serangan udara yang dilakukan di negara itu telah menghantam situs non-militer.
“Serangan itu telah menargetkan pernikahan dan rumah sakit, serta air dan pembangkit listrik, membunuh dan melukai ribuan lainnya,” jelasnya.
Selain itu, para ahli juga menuduh Houthi telah melakukan tembakan membabi buta di area sipil dan penembak jitu yang menargetkan nonmiliter.
Sejauh ini, pertempuran telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan mendorong Yaman ke ambang kelaparan.[Devi Lusianawati]






















