Islamabad, Gontornews — Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, mengaku pesimis dan putus asa dengan potensi gagalnya meraih kucuran dana bantuan dari Arab Saudi menyusul kematian jurnalis Jamal Khashoggi di Turki beberapa waktu lalu. Akibat kematian Khasoggi, PM Imran Khan melewatkan pertemuan dengan pimpinan Saudi, Raja Mohamed bin Salman lagi.
“Alasan saya harus memanfaatkan peluang ini adalah karena di negara berpenduduk 210 juta orang ini (Pakistan), tengah berada dalam krisis hutang terburuk dalam sejarah,” kata PM Imran Khan sebagaimana dilansir Reuters.
“Kecuali kita mendapatkan pinjaman dari negara sahabat atau IMF, sebenarnya cadangan devisa dua atau tiga bulan tidak akan mampu membayar hutang kita. Jadi kami putus asa untuk saat ini,” tambah PM Imran Khan.
Sebagaimana dieketahui, kunjungan ke Saudi ini merupakan kunjungan kedua yang dilakukan PM Imran Khan dalam satu bulan terakhir. Imran Khan berharap besar kepada Saudi untuk kembali membantu memulihkan kondisi keuangan Pakistan.
Pilihan untuk meminta bantuan kepada Saudi terjadi setelah IMF menolak memberikan bantuan dana moneter kepada Pakistan. IMF berdalih bahwa Pakistan akan menggunakan dana moneter untuk membayar hutang jatuh tempo kepada Cina akhir tahun ini.
Akibat hilangnya ‘potensi bantuan’ dari Saudi dan IMF, PM Imran perlu membatasi visi negara sejahtera yang dikampanyekannya saat pemilihan presiden beberapa waktu lalu.
Reuters sendiri mencatat bahwa cadangan devisi Paksitan turun menjadi 8,1 Miliar Dollar Amerika Serikat (sekitar 1,21 Triliun Rupiah) atau yang terendah dalam empat tahun terakhir. Sementara hutang Pakistan yang akan jatuh tempok pada akhir tahun mendatang mencapai 18 Miliar Dollar AS atau sekitar 27 Triliun Rupiah (kurs 1 Dollar AS = Rp 15.223,-).
PM Imran Khan menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang menyebabkan hutang Pakistan melonjak tajam dan ketidakmampuan negara untuk membayar hutang yang akan jatuh tempo pada akhir tahun ini. [Mohamad Deny Irawan]


















