Jakarta, Gontornews – Penetapan tersangka atas Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang diduga melakukan tindakan penistaan agama oleh pihak Kepolisian Republik Indonesia, Rabu (16/11) mengundang banyak respon media internasional.
Dalam pantuan Gontornews, media-media internasional seperti BBC,The New York Times, ABC (kantor berita Australia) hingga harian terkenal di Inggris, The Telegraph mengabarkan tentang penetapan tersangka Ahok.
Penetapan tersangka yang dilakukan oleh Kabareskrim terhadap Ahok, akibat tindakan penistaan agama yang dilakukannya, menurut media-media internasional, sarat dengan muatan politis. Selain itu, aksi damai yang dihadiri jutaan umat Muslim dari seluruh Indonesia yang dilakukan pada hari Jumat (4/11) disebut-sebut ada di balik penetapan tersangka Ahok.
“The Governor, who is Christian and ethnic Chinese, is runing for election at a poll due next year and accuses his opponents of being politically motivated (Gubernur yang beragama Kristen dan etnis Tiongkok maju dalam pemilihan kepala pada tahun depan disebabkan karena alasan politis),” jelas ABC.net.au tentang alasan mengapa Ahok ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim.
Di saat yang bersamaan, media terkenal The Telegraph menyerang Front pembela islam (FPI) sebagai kelompok yang melakukan tindakan main hakim sendiri.
“The Islamic Defenders Front, a vigilante group that wants to impose Shariah law, began demanding Ahok’s arrest after a video circulated online in which he joked to an audience about a passage in the Quran that could be interpreted as prohibiting Muslims from accepting non-Muslims as leaders.”
(FPI, kelompok yang melakukan tindakan main hakim sendiri yang ingin memberlakukan hukum Islam memulai dengan menuntut penangkapan Ahok setelah video candaan Ahok tentang suatu bagian dalam al-Qur’an melarang Muslim untuk menerima non-Muslim sebagai pemimpin).
Senada dengan dua media internasional sebelumnya, The New York Times bahkan menyebut bahwa aksi damai 411 yang dilakukan umat Muslim lebih bermuatan politik ketimbang agama. Di akhir tulisannya, media yang berbasis di Amerika Serikat itu menyebut Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim yang kaku, konservatif dan rentan terhadap aksi radikalisme dan kekerasan.
“Indonesia is the world’s most populous Muslim majority nation, but its people practice a pluralistic brand of Islam. Parts of the country, however, are rigidly conservative, and there are periodic outbreaks of violent radicalism”
(Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim di dunia, tapi orang-orang melaksanakan tindakan-tindakan pluralistik berbasis Islam. Bagian dari negara tersebut bersikap kaku, konservatif, dan rawan akan aksi kekerasan). [Mohamad Deny Irawan/Rus]




















