Apa jadinya jika Al Qur’an dan Al Hadits tidak ditulis ? Apa jadinya jika para ulama tidak menulis kitab-kitab ?. Apa jadinya jika para ilmuwan muslim tidak mewariskan karya-karya literasinya ? Maka umat ini akan terputus dengan sejarahnya dan kehilangan warisan budaya dan peradabannya.
Pesantren dan perguruan tinggi Islam adalah institusi spiritual dan intelektual yang paling bertanggungjawab merawat eksistensi agama ini. Jika kedua sumber hukum Islam dan ribuan kitab-kitab para ulama dan ilmuwan muslim telah ditulis, maka tradisi literasi Islam ini harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Meski sudah ada beberapa pesantren yang telah memiliki tradisi literasi, namun masih sangat banyak pesantren yang belum memiliki tradisi literasi. Banyak ulama tersebar di seantero nusantara yang ahli di bidang kajian kitab dan berceramah, namun belum terbiasa menuliskan ilmunya dalam bentuk buku.
Padahal, sejarah lahirnya pesantren justru diawali oleh adanya keilmuwan seorang kyai. Masyarakat mendatangi kyai untuk belajar di rumahnya. Karena makin banyak masyarakat berdatangan, sang kyai kemudian membuat pemondokan disebabkan rumahnya sudah tidak muat. Kader-kader kyai yang telah lulus lantas ikut membantu mengajar di pondok tersebut, maka lahirlah institusionalisai ilmu kyai yang kini disebut sebagai pesantren.
Pesantren adalah salah satu benteng umat Islam, bahkan mungkin tinggal satu-satunya di tengah gempuran peradaban Barat yang destruktif. Sebab di pesantren inilah berkumpul berbagai potensi umat, baik yang ahli bidang Al Qur’an, Al Hadits, kitab-kitab klasik hingga sains modern. Sebab pesantren-pesantren modern telah mengintegrasikan spirit keilmuwan klasik dengan sains modern.
Sebagaimana tertulis dalam sejarah bahwa peradaban Islam yang pernah berjaya ditopang oleh para generasi muslim yang mendalam bidang Al Qur’an bahkan hafal di usia dini, namun juga menguasai keilmuwan modern seperti matematika, sosiologi, psikologi, geografi, kosmologi, kedokteran dan sains lainnya. Bahkan para ilmuwan muslim itu telah juga mewariskan buku-buku berharga, meski kini tak lagi di tangan kaum muslimin.
Kontribusi para saintis muslim dalam menopang eksistensi kegemilangan peradaban Islam adalah fakta sejarah yang tak mungkin dielakkan. Banyak nama-nama saintis muslim yang berkontribusi di berbagai bidang keilmuwan pada abad pertengahan. Sebut saja di bidang matematika kita mengenal Al Khawarizmi, Abu Kamil Suja’, Al Khazin, Abu Al Banna, Abu Mansur Al Bagdadi, Al Khuyandi, Hajjaj bin Yusuf dan Al Kasaladi.
Di bidang Fisika kita mengenal Ibnu Al Haytsam, Quthb Al Din Al Syirazi, Al Farisi dan Prof. Dr Abdus Salam. Dalam bidang kimia ada Jabir bin Hayyan, Izzudin Al Jaldaki, dan Abul Qosim Al Majriti. Dalam bidang biologi ada Ad Damiri, Al Jahiz, Ibnu Wafid, Abu Khayr, dan Rasyidudin Al Syuwari. Dalam bidang kedokteran ada Ibn Sina, Zakariyya Ar Razi, Ibnu Masawayh, Ibnu Jazla, Al Halabi, Ibnu Hubal dan masih banyak lagi.
Dalam bidang astronomi kita mengenal Al Farghani, Al Battani, Ibnu Rusta Ibnu Irak, Abdul rahman As Sufi, Al Biruni dan tokoh ilmuwan muslim lainnya. Dalam bidang geografi kita mengenal Ibnu Majid, Al Idrisi, Abu Fida’, Al Balkhi, dan Yaqut al Hamawi. Dan dalam bidang sejarah kita mengenal Ibnu Khaldun, Ibnu Bathutah, Al Mas’udi, At Thabari, Al Maqrisi dan Ibnu Jubair.
Para saintis diatas adalah mereka yang telah melek literasi Islam yang fokus kepada tradisi membaca, menulis dan riset. Mereka adalah generasi ulil albab yang mempelopori kejayaan peradaban Islam. Selain kokoh di bidang aqidah, luas di bidang syariah, mereka juga adalah orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah. Tradisi inilah yang justru kini mulai redup, terutama di pesantren-pesantren.
Tradisi literasi saintis muslim yang telah melahirkan peradaban mulia bahkan diakui oleh Barat sebagai inspirasi kebangkitan peradaban Barat.Kebangkitan dunia Barat hari ini adalah hasil transformasi keilmuwan Islam kepada mereka melalui sebuah konspirasi jahat. Mereka kemudian melakukan berbagai penetrasi dan penyerangan pemikiran liberal sekuler di dunia Islam.
Dari sinilah malapetaka demi malapetaka di dunia Islam terus berlangsung hingga kini. Islam dan umat Islam secara konseptual adalah agama yang benar dan umat yang terbaik. Kemampuan pesantren dalam membaca sumber-sumber khasanah Islam harus diikuti juga oleh kemampuan menulis. Sebab pembaca yang baik baik belum tentu penulis yang baik, namun penulis yang baik pasti seorang pembaca yang baik. Allah sendiri telah memerintahkan umatnya untuk membaca (iqro’) sekaligus menulis (qalam).
“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis” (QS Al Qalam : 1). “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al ‘Alaq : 1-5).
Jika pesantren menghidupkan tradisi literasi, selain sebagai cara untuk memelihara keilmuwan juga akan menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya. Para Imam Mazhab yang empat begitu masyhur hingga kini disebabkan karena memiliki kader dan menuliskan ilmunya. Maka hidupnya tradisi literasi pesantren akan menjadi penjaga eksistensi pesantren, lahirnya generasi ulama sekaligus mempercepat terwujudnya kembali kejayaan peradaban Islam masa depan.




















