London, Gontornews — Pesepakbola Muslim berkebangsaan Prancis, Paul Pogba, mendapatkan perlakuan rasis kala timnya, Manchester United, menghadapi Wolverhampton Wanderes dalam lanjutan kompetisi liga Premiere League Inggris, Ahad (22/8).
Pogba mendapat ‘serangan’ rasis di laman sosial media setelah ia gagal melakukan tendangan penalti yang menjadikan laga berkesudahan sama kuat, 1-1.
Selain Pogba, pemain Chelsea, Tammy Abraham, juga mengalami perlakuan serupa setelah ia juga gagal menceploskan bola dalam babak adu penalti melawan Liverpool dalam perebutan Juara Piala Super Eropa.
Akibat perlakukan rasis dari para fans di jagad maya tersebut, Pelatih Chelsea, Frank Lampard, meminta kepada perusahaan sosial media, Twitter, untuk mengambil tindakan tegas kepada setiap pengguna yang melakukan serangan rasis.
Akibat 2 kasus rasis tersebut, Twitter dikabarkan segera menjadwalkan pertemuan dengan pihak Manchester United, selaku klub pemilik Paul Pogba, dengan badan anti-diskriminasi Inggris, Kick It Out.
“Kami selalu berdialog dengan terbuka dan sehat dengan seluruh mitra kami di ruang ini Namun, kami juga perlu berbuat lebih banyak demi melindungi para pengguna kami,” kata Twitter dalam sebuah pernyataan yang dilansir laman Reuters.
“Perilaku rasis tidak mendapatkan tempat di perusahaan kami dan kami mengutuk tindakan tersebut.”
“Dalam beberapa pekan ke depan, perwakilan Twitter akan bertemu dengan Manchester United, Kick it Out, dan otoritas masyarakat sipil lainnya yang tertarik dengan langkah proaktif yang dilakukan Twitter guna mengatasi penyalahgunaan rasis terhadap pemain sepakbola secara daring di Inggris,” tambah pernyatan resmi Twitter.
Pelecehan rasial yang diterima Pogba juga dikutuk oleh rekan satu timnya di Manchester United, Harry Maguire. Bek termahal dunia tersebut juga mendesak agar Twitter memverifikasi akun anonim untuk mencegah penyalahgunaan pengguna.
Sementara itu, asosiasi Kick It Out mengaku bahwa pihaknya teleh menerima sekitar 159 laporan diskriminasi terhadap pemain sepakbola di jagad maya setidaknya dalam satu tahun terakhir. [Mohamad Deny Irawan]



















