BACA JUGA
Jakarta, Gontornews – Presiden Jokowi menginstruksikan untuk dilakukan reorientasi pendidikan dan pelatihan vokasi ke arah demand driven sehingga kurikulum, materi pembelajaran, praktik kerja, pengujian serta sertifikasi sesuai dengan permintaan dunia usaha dan industri.
“Untuk merespon instruksi itu, diperlukan tidak hanya langkah strategis, namun juga langkah operasional yang terukur dan terkoordinasi antar kementerian dan lembaga,” Tegas Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dalam ramah tamah kerjasama revitalisasi SMK Pertanian antara Indonesia dan Belanda, di Kantor Staf Presiden, Bina Graha, Rabu, (23/11).
Reorientasi pendidikan vokasi ini sangat penting dalam beberapa aspek, dengan tujuan agar sekolah menengah kejuruan dapat menyediakan tenaga kerja terampil yang siap kerja di berbagai sektor ekonomi seperti pertanian, industri, pariwisata, bahkan ekonomi kreatif.
“Selain itu, agar dapat mengurangi permasalahan pengangguran usia muda,” tegas Teten sebagaimana dilansir laman Kantor Staf Presiden, ksp.go.id
Teten juga memaparkan bahwa tingkat pengangguran usia 15-19 tahun mencapai 23,23 persen pada 2010. Sedangkan pada 2015, tingkat pengangguran usia yang sama menjadi 31,12 persen atau 3 dari 10 anak muda Indonesia menganggur.
Diharapkan, keberhasilan pendidikan vokasi juga dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja karena 62 persen yang bekerja saat ini memiliki kualifikasi rendah atau paling tinggi lulus SMP.
“Kerjasama antara Indonesia dan Belanda melalui nota kesepahaman ini menjadi salah satu inisiatif kongkrit dalam rangka reorientasi pendidikan vokasi,” kata Teten.
Ia menekankan, Memorandum of Understanding (MoU) ini sengaja disusun lebih detail dibandingkan dengan MoU lain yang pernah ada. Tujuannya untuk memastikan bahwa setiap langkah, program dan pelaksana kegiatan teridentifikasi secara jelas dan terukur.
Proyek percontohan revitalisasi SMK Pertanian kerjasama dengan Belanda diadakan di dua sekolah yakni SMKN 2 Subang dan SMKN 5 Jember.
“Kami bersyukur mendapat kepercayaan sebagai pilot project untuk revitalisasi pendidikan vokasi,” kata Bupati Jember,Faida, sembari berharap agar proyek percontohan ini diperluas dengan melibatkan pondok-pondok pesantren.
“Di Jember, bicara pendidikan tak bisa melepaskan diri dari pondok pesantren. Kami ingin spirit program ini tersebar lebih luas,” tambahnya.
Faida juga menekankan, saat ini Jember begitu fokus pada dunia pendidikan, terutama dengan adanya program ‘1 desa 1 dosen’ bekerjasama dengan Universitas Airlangga.
Hadir dalam pertemuan ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud, Hamid Muhammad, Direktur Pembinaan SMK Kemdikbud, Mustaghfirin Amin, Bupati Jember Faida dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, Engkus Kusdinar. [Mohamad Deny Irawan]




















