New Haven, Gontornews — Sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti asal Yale University mengatakan bahwa gas aerosol memiliki dampak terhadap perubahan iklim dunia. meski demikian, gas rumah kaca tetap menjadi penyebab utama perubahan iklim di dunia.
Bagi yang belum mengetahui, gas aerosol merupakan gas pewangi ruangan atau cat semprot yang berada di sekeliling anda. Padahal, aerosol merupakan salah satu partikel yang terdapat dalam atmosfer dunia. Selain dari pewangi ruangan, gas aerosol juga dihasilkan dari knalpot mobil, pembakaran biomassa atau bahkan letusan gunung berapi.
Salah satu permasalahan yang berlum terselesaikan hari ini adalah menyoal pemahaman kaitan antara gas aerosol dengan perubahan iklim. Aerorsol sendiri merupakan zat yang cepat memanas jika berada lebih tinggi dari permukaan tanah dan cepat mendingin apabila berada di atas lautan.
Penelitian yang diterbtikan dalam jurnal American Geophysical Union’s Geophyisical Research Letters disebutkan bahwa bukan saja distribusi geografis aerosol yang menjelaskan sensitivitas iklim tetapi juga interaksi aerosol, secara spesifik, dengan permukaan tanah.
“Dengan model iklim tradisional, ada ketidakpastian besar dalam mengetahui bagaimana aerosol mempengaruhi suhu permukaan,” kata salah seorang tim peneliti, TC Chakraborty, sebagaimana dilansir Scitech Daily.
“Kerangka kerja ini membantu menjelaskan mengapa dan bagaimana beberapa ketidakpastian ini ikut bermain,” tambahnya.
Secara teknis, peneliti menemukan bahwa gas aerosol memiliki efek gelombang panjang yang dianggap oleh komunitas ilmiah sebagia hal yang kurang penting. Menurut Chakraborty, iklim menjadi lebih sensitif jika aerosol berada dalam efek gelombang pendek.
Karenanya, tidak ada efek gelombang pendek di malam hari atau ketika atmosfer lebih stabil. Namun, hasil dari sensitivitas iklim yang dipicu oleh aerosol sering terjadi di daerah gersang dimana aerosol bersinggungan langsung dengan debu mineral kasar. Peneliti juga menegaskan bahwa setengah penghasil gas aerosol adalah manusia.
Chakraborty lantas menekankan arti penting vegetasi dalam mengatur interaksi antara aerosol dan iklim. Karena sepanjang 1980 hingga 2018, penggundulang hutan di seluruh dunia terus meningkat dan perlu segera dihentikan. [Mohamad Deny Irawan]




















