Berlin, Gontornews — Ketua Dewan Islam di Berlin, Burhan Kesici, mengatakan bahwa komunitas Muslim di Jerman merasa tidak cukup aman menyusul meningkatnya Islamofobia di negara tersebut.
Lebih lanjut, Burhan mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ada lebih dari 80 serangan yang dialamatkan kepada komunitas masjid di Jerman. Akibatnya, situasi keamanan menegang dan Muslim merasa tidak cukup aman dengan kondisi tersebut.
“Tahun ini kami menerima lebih dari 80 serangan terhadap komunitas masjid di Jerman. Situasi keamanan menjadi tegang. Muslim merasa kondisinya tidak cukup aman,” ungkap Burhan kepada Anadolu.
“Pembicaraan dengan otoritas keamanan menunjukkan bahwa tidak ada konsep yang cukup untuk menanggulangi masalah tersebut. Namun di atas semua itu kami menunjukkan bahwa umat Muslim tidak cukup untuk menasihati saja,” tambah Burhan.
Pernyataan Burhan terlontar tidak lama setelah pihak kepolisian mengevakuasi jama’ah sebuah masjid di Cologne barat, Jerman, menyusul adanya ancaman bom di lokasi tersebut.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Jerman, Steve Alter, mengatakan bahwa pihak kementerian merasa prihatin terhadap serangan yang menyerang sejumlah lembaga keagamaan dalam beberapa pekan terakhir.
“Menteri telah berulang kali menyatakan keprihatinannya tentang serangan terhadap lembaga-lembaga keagamaan dalam beberapa pekan terakhir,” ungkap Steve Alter.
Setelah pihak kepolisian mengidentifikasi lokasi dengan menerjunkan tim khusus dan anjing pelacak bom, mereka tidak menemukan bom dan memastikan bahwa ancaman tersebut tidak terbukti.
Dalam beberapa waktu terakhir, Islamophobia di Jerman meningkat seiring dengan propaganda kebencian yang dilayangkan oleh partai politik sayap kanan terhadap umat Islam. Sepanjang tahun 2018, lebih dari 100 masjid dan institusi keagamaan diserang propaganda yang digulirkan oleh kelompok tersebut.
Jerman sendiri menjadi rumah yang ramah bagi populasi Muslim di Eropa. Tercatat ada 4,7 juta warga Muslim di Jerman dari 81 juta warga Jerman. Populasi Muslim di Jerman terbanyak kedua setelah populasi muslim di Perancis. [Mohamad Deny Irawan]


















