Jakarta, Gontornews — Ahad (1/3), UAS (Ustadz Abdul Shomad) hadir di IBF (Islamic Book Fair) 2020, JCC Senayan, Jakarta. Kedatangan UAS tersebut disambut antusias ratusan penonton yang tengah berkunjung ke IBF.
Sebelumnya, acara bedah buku terjemahan berjudul Biografi Badiuzzaman Said Nursi dari judul aslinya Sirah Badi’uzzaman Said an-Nursi itu, sempat dibuka dengan penjelasan singkat oleh sang penerjemah, Saifullah Kamalie PhD.
Kepada Gontornews.com, Saifullah mengutarakan bahwa Said Nursi memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia bahkan bisa mengarang tafsir dalam keadaan perang dan saat sedang menunggang kuda. “Bahkan dengan menyebutkan referensinya,” tambah penerjemah tersumpah itu.
Selain itu, kebaikan Said Nursi juga terlihat saat dirinya enggan untuk dikultuskan. Hal ini senada dengan penjelasan UAS di hadapan para jamaah, “Said Nursi selalu membaca buku yang ditulis para murid pilihannya dan mengeditnya sendiri.”
Said Nursi tidak ingin ada hal berlebihan seperti pujian atas dirinya dan hanya menginginkan buku berisi hal terkait keimanan saja. “Ia tidak mengedit bukunya sendiri tidak untuk memuji diri sendiri,” tambah UAS. Buku ini ditulis dari kaca mata orang lain, jelasnya, tapi dia hapus dan dia edit sendiri.
Buku biografi Said Nursi pun khusus membahas tentang keimanan. Buku itu ditulis dan disusun selama 14 tahun sejak tahun 1944 sampai 1958 oleh murid-murid yang setia dengan Said Nursi. Proses penerjemahannya berlangsung selama dua tahun oleh Saifullah Kamalie PhD dan diterbitkan oleh Risalah Nur Press.
UAS menyampaikan, Said Nursi dalam perjalanan hidupnya menghadapi banyak hal seperti mimbar parlemen. Saat itu muncul pernyataan bahwa agama adalah racun. Situasi di negaranya saat itu ada pihak yang sekuler-liberal dan ada yang komunis.
Said Nursi ketika dipuji kecerdasannya. “Ketika dipuji kecerdasannya, katanya adalah, ‘khasiat anggur yang lezat tidak dicari pada tangkainya yang kering. Akulah tangkai kering, yang lezat adalah al-Qur’an,'” katanya sembari menambahkan bahwa Nursi adalah desa kelahiran Said yang bernama Nurs, dan ia lahir pada 1877.
Nursi juga pernah bermimpi di mana dunia saat itu seolah kiamat dan hancur berkeping-keping. Namun, Nursi selamat dan bersama wali, lalu bertemu majelis Rasulullah SAW.
UAS mengungkapkan, tiap tokoh-tokoh besar itu ada sesuatu. Nabi Ibrahim AS saat diperintah menyembelih anaknya pun lewat mimpi. “Mimpi adalah cara Allah mengirimkan ilham,” ulasnya.
Poin UAS berikutnya adalah Nursi punya pandangan bahwa politik bisa menjadi pelayan bagi hakikat Islam. Maksud hakikat Islam dalam hal ini, kata UAS, adalah keadilan dan memerangi kebodohan, tetapi jangan menjadikan Islam untuk mencapai tujuan politik.
“Ada saatnya menghadapi politik dan ada saatnya menghindari politik,” pungkas UAS, alumni Al-Azhar University, Kairo. [Edithya Miranti]




















