Yangon, Gontornews — Korban sipil yang tewas akibat tindakan kekerasan militer Myanmar terhadap pengunjuk rasa menembus angka 520 orang. Kelompok etnis bersenjata Myanmar, Selasa (30/3/2021), mengancam pemerintah militer untuk menyerang balik jika pertumpahan darah tidak berhenti.
Setidaknya tiga kelompok etnis bersenjata mengutuk tindakan penyerangan terhadap warga sipil dalam aksi unjuk rasa anti militer Myanmar. Pasalnya, demonstrasi anti kudeta militer 1 Februari mendapatkan respon agresif dari pemerintah militer. Pasukan militer menyambut para pengunjuk rasa dengan gas air mata, peluru karet hingga peluru tajam.
The Assistace Associtation for Political Prisoners (AAPP) telah mengonfirmasi total 521 kematian warga sipil hingga Selasa dini hari. Namun, AAPP memperingatkan jumlah sebenarnya bisa jadi lebih tinggi dari angka tersebut.
Dalam insiden demonstrasi anti militer, Selasa, delapan orang dikabarkan tewas termasuk pengunjuk rasa berusia 35 tahun asal asal kota Muse di negara bagian Shan. Korban jiwa juga jatuh dalam demonstrasi yang terjadi di Kachin, Mandalay dan Bago.
“Jika mereka tidak berhenti dan terus membunuh orang, kami akan bekerjasama dengan para pengunjuk rasa dan melakukan perlawanan,” kata pernyataan bersama tiga kelompok etnis bersenjata, Ta’ang National Liberation Army, Myanmar Nationalities Democratic Alliances Army dan Arakan Army (AA), sebagaimamana dilansir Channel News Asia.
Jika serangan balasan terjadi, lembaga hak asasi manusia asal Prancis, FIDH, mengingatkan Myanmar akan mengalami perang saudara yang pernah terjadi pada tahun 1948. Saat itu, perang saudara di Myanmar memperebutkan daerah otonomi, identitas, obat-obatan dan sumber daya alam.
Dalam sepekan terakhir, militer Myanmar juga melancarkan serangan udara ke negara bagian Karen. Mereka menargetkan kelompok etnis bersenjata, Karen National Union (KNU), yang sebelumnya merebut pangkalan militer Myanmar di Karen.
“Kami akan sangat mendukung gerakan rakyat melawan militer,” pungkas Kepala urusan luar negeri KNU, Padoh Saw Taw Nee. [Mohamad Deny Irawan]




















