Palu, Gontornews — Tim relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Palu melaporkan bahwa telah terjadi kekacauan di masyakarat pasca tsunami di Palu, Sabtu (29/9). Kekacauan yang disampaikan oleh ACT di Palu meliputi kesulitan warga Palu dalam memperoleh kebutuhan dasar seperti air minum, pangan dan bahan bakar minyak (BBM).
“Logistik lumpuh sepenuhnya. Sementara bantuan logistik belum merata. Bensin tidak ada, bahkan sekedar air minum yang kami tidak temukan sejak pagi,” ungkap tim relawan ACT di Palu, Nimas Afridha dalam akun media sosial ACT di Facebook, Ahad (30/9).
“Kami tim ACT yang bertugas di Palu sampat minum sedikit sekali sejak pagi hari. Kondisi pengungsi jauh lebih berduka lagi. Masih banyak warga yang tidak menemukan makanan sejak dua hari lalu,” tambah Nimas.
ACT mencatat bahwa korban meninggal akibat tsunami di Palu hingga hari Ahad (30/9) mencapai 832 jiwa. Tim Emergency Response ACT juga mengamini terjadinya aksi penjarahan di minimarket sebagai tindakan darurat di Palu. Para warga membuthkan hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
“Ada banyak sekali hambatan. Stok logisktik masih sangat kuran. Listrik belum hidup, bahan bakar tidak ada dan relawan lokal yang terdampak gempa dan tsunami pun masih tesebar mengurus keluarga mereka terlebih dahulu,”
“Distribusi bantuan akhirnya masih terhambat dan tidak merata,” pungkas anggota Tim Emergency Response ACT, Nur Ali Akbar, di Kota Palu. [Mohamad Deny Irawan]





















