Damaskus, Gontornews– Jutaan penduduk Suriah sedang mempersiapkan diri memasuki musim dingin yang mematikan. Di musim panas, suhu di Suriah bisa mencapai 45 derajat Celsius dan turun ekstrem hingga ke nol derajat saat musim dingin. Musim peralihan ini tengah berlangsung di Suriah. Jumat (2/11) pagi, penunjuk cuaca di situs World Metheorological Organization menunjukkan suhu di Damaskus, Suriah berkisar 4 derajat dengan curah hujan 69 persen di siang hari.
PBB menyebut, dampak perang di Suriah merupakan krisis kemanusiaan terbesar setelah perang dunia kedua. Perang saudara di Suriah paling tidak menyebabkan 500 ribu orang meninggal dunia dan eksodus 5 juta orang ke negara-negara sekitarnya. Perang yang terjadi pun memblokir sejumlah bantuan kemanusiaan untuk masuk dan diberikan kepada para pengungsi. Hal tersebut akan sungguh memprihatinkan bila musim dingin tiba.
Puncak musim dingin di Suriah biasa terjadi Desember-Februari. Musim dingin yang segera tiba juga berarti meningkatnya kebutuhan pengungsi, misalnya bahan makanan, penghangat, kantong tidur, baju hangat, dan juga selimut. Perjuangan para pengungsi bukan hanya memikirkan cara untuk meloloskan diri dari perang, namun juga selamat dari suhu dingin yang mencekam.
Februari 2018 lalu, 17 penduduk Suriah ditemukan tewas karena beku dingin badai salju yang tidak tertahankan, sebagaimana dikabarkan CNN. Semua pengungsi itu sedang dalam perjalanan menembus pegunungan Lebanon, menuju Lembah Bekaa.
Sarah (3), adalah salah satu gambaran perjuangan penyintas Suriah di musim dingin. Di suatu malam bulan Januari lalu, ia terkulai tidak berdaya di salah satu ranjang rumah sakit di Bekaa. Setelah berusaha melewati pegunungan untuk sampai ke Lebanon, Sarah terserang radang dingin. Perban tebal menyelimuti pipi kanannya, dan perban lain dipasang mengelilingi kepala hingga telinga kanannya.
“Sesekali ia hanya berkata ‘aku ingin makan’ itu saja,” tutur Mishaan al Abed, ayah Sarah. Saat itu, tak seorang pun juga yang mengabarkan ibu, nenek, kakak perempuan, bibi, dan dua sepupunya telah meninggal dunia.
Musim dingin tahun ini berarti musim dingin ketujuh bagi para pengungsi sejak pecah perang 2011 lalu. Untuk ketujuh kalinya pula para pengungsi harus “berdamai” dengan temperatur dingin.
“Kami mengestimasi akan ada empat juta orang yang akan menghadapi risiko ekstrem, membutuhkan persiapan yang benar-benar matang untuk menghadapi musim dingin mendatang. Sayangnya, hanya satu dari empat di antara mereka yang bisa mendapatkan hal-hal yang mereka butuhkan,” papar juru bicara Komisioner PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Andrej Mahecic, Rabu (3/10) lalu.
“Menang jadi abu, kalah jadi arang,” seperti itulah dampak perang. Penduduk Suriah mungkin harus terus berjuang sebelum perang benar-benar dihentikan. Namun bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kepedulian sesama akan menjadi satu pelita yang mampu menghangatkan penduduk Suriah bila musim dingin tiba. [Gina/Hafidh]






















