Washington, Gontornews – Konflik bersenjata yang terjadi antara militer dan Muslim Rohingya menewaskan setidaknya 12 tentara dan 77 warga Muslim Rohingya, Sabtu (26/8). Amerika Serikat meminta pemerintah Myanmar agar menahan diri dari konflik bersenjata tersebut.
Jurubicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Heather Nauert, meminta agar militer Myanmar menghormati hukum dan melindungi etnis minoritas Rohingya.
“Serangan milisi Rohingya menjadi pengingat pentingnya rekomendasi panel pakar yang dipimpin mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, agar memperbaiki pembangunan ekonomi dan keadilan sosial di Rakhine sebagai solusi mengakhiri konflik antara warga Budha dan Rohingya,” ungkap Nauert.
Dalam keterangannya, Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar, menyebut bahwa tindakan tersebut dilakukan setelah milisi dan gerilyawan Rohingya menyerang 20 pos polisi di Rakhine. Aung San Suu Kyi menyebut penyerangan ini sebagai “operasi pembersihan”
Sementara itu, PBB melansir sebuah data setidaknya lebih dari 80.000 warga Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh setelah konflik tersebut pecah Oktober silam. Kofi Annan mengecam serangan militan Rohingya maupun serangan balas dendam militer Myanmar.
“Tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakan brutal dan pembunuhan yang tidak masuk akal.”
“Kami mendesak pemerintah Myanmar untuk menahan diri dan memastikan sipil Rohingya yang tidak bersalah tidak dilukai,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]




















