Bandar Seri Begawan, Gontornews — Utusan ASEAN untuk Myanmar masih terus bernegosiasi dengan militer mengenai persyaratan kunjungan ke negara itu. Dia juga terus bernegosiasi untuk mencari akses ke pemimpin terguling Myanmar, Aung San Suu Kyi.
ASEAN menunjuk seorang diplomat Brunei Darussalam, Erywan Yusof, untuk memimpin upaya penyelesaian krisis di Myanmar. ASEAN telah berusaha untuk mengakhiri kekerasan yang meletus di Myanmar setelah militer menggulingkan Aung San Suu Kyi. ASEAN berharap utusannya dapat membuka dialog antara penguasa militer dengan lawan-lawan mereka.
“Ada kebutuhan mendesak untuk pergi ke Myanmar sekarang. Tapi, saya pikir sebelum semua itu terlaksana, saya perlu memiliki jaminan,” ungkap Erywan kepada Reuters.
“Saya harus memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang perlu saya lakukan, apa yang mereka izinkan ketika saya berkunjung,” sambung Erywan.
Sejauh ini, Erywan terus mengupayakan akses ke Aung San Suu Kyi kepada Dewan Administrasi Negara yang dipimpin oleh Jenderal Min Aung Hlaing.
Saat memutuskan untuk mengambil alih kekuasaan, militer menyebut partai National League of Democrationn (NLD) berbuat curang dalam pemilihan umum November 2020. Kemenangan itu membawa Aung San Suu Kyi melenggang sebagai pemimpin de facto Myanmar selanjutnya.
Namun, pada 1 Februari lalu, militer melakukan perebutan kekuasaan dengan melakukan penangkapan kepada Aung San Suu Kyi dan beberapa petinggi NLD. Militer berdalih bahwa apa yang mereka lakukan telah sesuai dengan konstitusi. Sementara pendukung NLD dan sebagian masyarakat Myanmar menganggap bahwa hal tersebut merupakan kudeta.
Sejak saat itu, gelombang demonstrasi di Yangon dan beberapa wilayah Myanmar merebak dan menimbulkan korban jiwa. ASEAN memberikan sejumlah upaya diplomatik demi menghentikan krisis Myanmar.
Tetapi, militer yang dipimpin Jenderal senior Min Aung Hlaing tidak menunjukkan niat untuk menindaklanjuti masukan negara-negara ASEAN serta memilih untuk memulihkan ketertiban dan demokrasi nasional dengan cara mereka sendiri.
Sebagai informasi, ASEAN menyerukan dialog antar semua pihak, melakukan penunjukan utusan khusus serta memprioritaskan aspek kemanusiaan demi meredam demonstran. Namun, Indonesia, Malaysia dan Singapura frustasi dengan kurangnya tindakan militer serta mengakhiri segala bentuk pengamanan dengan kekerasan. [Mohamad Deny Irawan]











