Anda termasuk aktivis dunia cyberspace? Berhati-hatilh menyimpan dan share data pribadi di akun media sosial. Sedikitnya 87 juta data user Facebook telah diretas. Sementara Youtube, Google, Twitter, dan Reddit juga kini tidak aman. Maka, waspadalah!
Awal April, CEO Facebook Mark Zuckerberg menjadi sorotan media. Dia menjalani interogasi dalam dari anggota parlemen dan senator dalam Sidang Kongres Amerika Serikat. Pendiri medsos terkemukan itu dimintai pertanggungjawabannya atas kasus kebocoran data jutaan pengguna Facebook.
Sebelumnya, ada dugaan sekitar 87 juta data akuna Facebook di dunia diambil dan diolah oleh Cambridge Analytica, perusahaan pengolah data yang disebut-sebut ada di balik suksesnya Donald Trump dalam Pilpres AS dan kampanye Bexit di Inggris Raya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.096.666 pengguna di antaranya adalah netizen Indonesia.
Akibatnya, CEO Facebook menjadi pesakitan Kongres AS selama dua hari berturut-turut. Secara terpisah, Facebook juga diprotes negara lain, termasuk Indonesia dan Filipina.
Dalam sidang Kongres AS, Mark Zuckerberg berusaha menyakinkan bahwa kebocoran itu bukan kesengajaan. Bukan juga akibat kelalain perusahaannya. Setiap pemilik akun disebutnya punya kontrol penuh atas data pribadinya.
Meski begitu, pendiri Facebook ini secara terbuka meminta maaf atas tindakan yang dilakukan perusahaannya dalam mengatasi kemarahan warganet dan pihak-pihak terkait lainnya.
Alih-alih meyakinkan Kongres, Mark Zuckerberg mengemukakakn mereka juga melacak penggunaan internet orang-orang yang tidak memiliki akun Facebook. “Facebook melacak non-pengguna demi alasan keamanan,” ucapnya menjawab menjawab pertanyaan lesgislator Ben Lujan.
Facebook kemudian mendapat protes karena praktik tersebut. Beberapa anggota lain meminta perusahaan tersebut mencari cara untuk memberi tahu non-pengguna mengenai informasi apa saja yang diketahui Facebook.
Lujan meminta Facebook memberi informai tambahan untuk hal tersebut, namun, Zuckerberg tidak menjawab. Reuters (13/4) menuliskan Facebook menyatakan tidak berencana membuat alat seperti itu.
Praktik ini menambah deretan protes kepada Facebook, Zuckerberg dituduh tidak berbuat banyak untuk melindungi data pengguna. “Tidak jelas apa yang dilakukan Facebook dengan informasi tersebut,” kata Chris Calabrese dari Center for Democracy & Technology, lembaga advokasi dari Washington.
Facebook mendapatkan data non-pengguna dari warganet saat mereka mengunggah alamat email teman. Data non-pengguna juga dapat berasal dari “cookies”, berkas kecil yang disimpan dalam browser dan digunakan Facebook dan yang lainnya untuk melacak orang di internet, terkadang untuk keperluan target iklan.
“Pengumpulan data seperti ini penting untuk bagaimana internet bekerja,” kata Facebook dalam keterangan tertulis kepada Reuters.
Ketika ditanya apakah ada opsi untuk mematikan fitur ini, Facebook menyatakan “Ada hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk membatasi pengunaan informasi untuk iklan, misalnya menggunakan peramban atau perangkat untuk menghapus cookies. Ini akan berlaku untuk layanan di luar Facebook karena, seperti yang sudah disebutkan, ini adalah standard bagaimana internet bekerja”.
Facebook berjanji akan memasang cookies ke non-pengguna jika mereka mengunjungi situs yang memiliki tombol “like” atau “share”. Data tersebut dapat digunakan untuk membuat analisis, termasuk mengenai traffic sebuah situs. Tetapi, Facebook menyatakan tidak menggunakan data untuk iklan. Mereka hanya mengundang orang untuk membuat Facebook.
Sumber Kebocoran Lain
Menurut analis IT dunia, facebook bukan satu-satunya sumber penyalahgunaan data netizen. “Saya rasa dua perusahaan berikutnya yang harus ada di kursi panas adalah YouTube, divisi Google, dan yang satu lagi antara Twitter atau Reddit,” kata CTO Brainlink International, Raj Goel, dilansir dari FOX Bussiness.
Spesialis keamanan siber itui menyatakan Google juga melakukan penambangan data dan profil persis seperti yang Facebook lakukan. “YouTube sangat sangat aktif digunakan oleh kampanye bermuatan disinformasi, politik maupun penipu,” jelas Goel.
Goel juga menilai Twitter sama seperti Facebook dan Google, namun, Twitter tidak melakukan cukup aksi memerangi disinformasi karena khawatir akan kehilangan aset utamanya, yakni akun pengguna.
Terhadap sidang Zuckerberg, Goel memberi nilai B minus atas penampilannya selama dua hari, dan D minus untuk kejujuran dan transparansi. “Dia berbohong dengan baik. Dia berulang kali menyatakan, pengguna memiliki kontrol terhadap informasi,’’ tegasnya.
Mark Zuckerberg Tertekan
Joe Navarro, mantan agen FBI dan penulis buku bahasa tubuh, tergelitik menganalisis CEO Faceboook Mark Zuckerberg selama sidang di Kongres AS.Dalam opininya di laman Fortune, Navarro melihat dibalik pembawaannya yang tenang dan lancar dalam menjawab setiap pertanyaan, Zuckerberg tampak menyembunyikan sesuatu selama sidang dua hari itu.
“Sepintas, Zuckerberg berlaku seperti orang tenang, memanggil anggota dengan sebutan ‘senator’. Dia berusaha sabar menghadapi pertanyaan yang kadang tidak masuk akal dan sudah ditanyakan berulang kali,” kata Navarro.
Menurut Nacarro, Zuckerberg memang ahli di bidangnya, internet. Namun, dia bukan orang yang ahli berbicara di depan umum. Dia menunjukkan sejumlah gejala psikologis tidak nyaman.
Saat pertama kali duduk di ruang sidang, Zuckerberg terlihat kaku dan ragu untuk melihat ke sekelilingnya. Setelah itu, dia meneguk minumannya perlahan dan sesekali sulit menelannya, tanda sedang berada di bawah tekanan.
“Zuckerberg beberapa kali menekan bibirnya, tanda stres. Orang-orang yang bersaksi di hadapan Kongres sering menekan bibirnya berulang kali,” kata Navarro.
Tanda-tanda ketidaknyamanan Zuckerberg tampak saat berusaha keras menjawab setiap pertanyaan. Navarro menilai para pemimpin biasanya menggunakan gerakan tangan untuk menekankan sesuatu. Zuckerberg menempuh cara lain, dia menggunakan suara untuk menekankan maksudnya. “Inikesalahan. Gerakan lebih kuat daripada suara, jika digunakan dengan baik,” tambahnya.
Protes Indonesia dan Filipina
Pihak Indonesia dan Filipina telah memprotes Facebook. Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia telah meminta penjelasan Facebook mengenai bentuk informasi dan cara pemberitahuan penyalahgunaan data pengguna.
Sejauh ini Facebook pun belum memberikan notifikasi kepada Kominfo mengenai potensi-potensi penyalahgunaan data pribadi yang berasal dari platform aplikasi pihak ketiga. Selain itu, Kominfo membutuhkan penjelasan mengenai struktur tanggung jawab di Facebook ketika terjadi penyalahgunaan data.
Kepala Perlindungan Data dari Facebook Irlandia melalui surat elektronik menyampaikan penjelasan langkah yang telah diambil, antara lain melakukan audit terhadap kebocoran data pribadi dari penggunanya.
Namun, hasil audit tersebut belum disampaikan secara lengkap dan rinci kepada Kementerian Kominfo. Facebook memberikan rincian informasi mengenai akses pihak ketiga terhadap data pengguna dalam aplikasi Cambridge Analytica.
Sementara itu, Pemerintah Filipina sedang menyelidiki pelanggaran data warganya yang menggunakan Facebook. Komisi Privasi Nasional Manila menyurati Mark Zuckerberg dan meminta Facebook menyerahkan dokumen badan pemerintah yang akan menerangkan ruang lingkup dan dampak kebocoran pada data pribadi pengguna di Filipina.
Sanggahan Cambridge Analytica
Amerika Serikat dan Inggris geger oleh skandal media sosial yang pertama kali disiarkan oleh The Telegraph dan New York Times mengenai dugaan pemanfaatan profil puluhan juta pengguna Facebook oleh sebuah perusahaan yang disewa oleh tim kampanye Donald Trump sewaktu Pemilihan Presiden 2016. Nama perusahaan itu adalah Cambridge Analytica. (Reuters)
Sementara itu, Cambridge Analytica (GA), Senin (9/4), mengeluarkan sanggahan mengenai tuduhan kebocoran data 87 akun Facebook yang dialamatkan kepada mereka. Ada 10 bantahan dikemukakan oleh Pelaksana Tugas Pimpinan CA, Alexander Tayler.
“Kami menyampaikan 10 poin untuk menjawab klaim yang beredar. Kami juga meluncurkan website CambridgeFacts.com, yang akan memberikan penjelasan mengenai hal tidak benar yang beredar di seputar perusahaan kami,” kata Tayler..
Menurutnya, CA tidak “meretas” Facebook. Sebuah perusahaan riset (GSR) memberikan data kepada kami secara legal melalui alat yang disediakan Facebook. Ratusan firma data menggunakan Facebook dengan cara yang sama. Jelasnya, CA tidak melakukan cara illegal, tidak juga melanggar regulasi FEC.
Pihak CA juga menyataan tidak menggunakan data GSR atau turunannya untuk kepentingan Donald Trump dalam Pemilu Presiden AS dan kampanye Brexit di Inggris.
Dedi Junaedi






















