Dhaka, Gontornews — Perusahaan listrik milik Bangladesh, Senin (05/06/2023), terpaksa menutup pembangkit listrik terbesarnya karena tidak mampu membeli batubara sebagai bahan bakarnya. Manajer pembangkit listrik Payra di Bangladesh Selatan, Shah Abdul Mawla, mengatakan perusahaan terpaksa mengambil langkah penghentian karena kelangkaan batubara.
Selama ini, Pembangkit listrik Payra di Bangladesh Selatan berhasil memasok sekitar 1.320 megawatt setiap hari. Tetapi, sejak bulan lalu, perusahaan telah memangkas produksi karena kekurangan bahan bakar.
“Karena kelangkaan batubara, pembangkit listrik itu berhenti total pada pukul 12.15 siang,” kata Mawla kepada AFP. Ia berharap produksi dapat kembali dalam rentang waktu waktu tiga pekan ketika pengiriman batubara tiba.
Bangladesh sedang berjuang melawan depresiasi mata uang dengan cadangan devisa terus merosot dari 46 miliar dolar Amerika Serikat pada Januari tahun lalu menjadi 30 miliar dolar Amerika Serikat pada akhir April tahun 2023. Tidak hanya itu, tingkat inflasi nasional berada di angka 9.9 persen. Meski demikian, sejumlah ekonom menduga bahwa angka inflasi sebenarnya jauh lebih tinggi.
Sebagai informasi, Bangladesh sedang meghadapi pemadaman listrik secara nasional hingga lima jam dalam sehari. Kebijakan pemadaman ini terjadi seiring meningkatnya permintaan listrik yang melonjak karena gelombang panas yang melanda seluruh wilayah di negara Asia Selatan tersebut.
Jurubicara Power Grid Company of Bangladesh ABM Badruddoza Khan mengatakan Bangladesh kekurangan 2500 MW listrik secara nasional dengan permintaan harian mencapai sekitar 16.000 MW.
“(Situasi ini) mungkn akan bertahan selama dua pekan ke depan. Kami tidak dapat menyediakan batubara, gas dan bahan bakar lainnya secara memadai,” ucap Menteri Energi Bangladesh, Nasrul Hamid. [Mohamad Deny Irawan]





















