Cox’s Bazar, Gontornews — Pihak keamanan Bangladesh mengklaim berhasil menggagalkan sejumlah aksi perdagangan manusia (human trafficking) yang melibatkan pengungsi Rohingya. Umumnya, mereka menjadikan Malaysia dan Thailand sebagai tujuan dengan dalih memiliki anggota keluarga di dua negara tetangga Myanmar tersebut.
Mereka menggunakan kapal tongkang sebagai alat transportasi utama.
Baru-baru ini, Kepolisian Bangladesh berhasil menggagalkan penyelundupan 15 orang Rohingya di Pantai Shamlapur, Teknaf, untuk berangkat ke Malaysia dengan menggunakan kapal. Ke-15 warga Rohingya tersebut terdiri dari delapan orang laki-laki dan tujuh perempuan berusia remaja.
Setelah pihak kepolisian melakukan penelusuran, mereka berasal dari kamp pengungsian di Ukhiya dan Teknaf.
Dhaka Tribune melansir bahwa para pedagang manusia tidak melaksanakan janjinya serta kerap meninggalkan para korban di tengah jalan. Pada bulan November tahun lalu misalnya, patroli penjaga perbatasan Bangladesh berhasil menemukan 14 pengungsi Rohingya di pantai Shahparir Dwip di Pulau Shapuree.
Tidak hanya itu, para pelaku juga meminta imbalan sebesar 10 juta rupiah per orang untuk sekali perjalanan ke Malaysia. Akan tetapi, setelah diajak berlayar selama 2 hari, mereka justru tidak sampai di tujuan seraya mengatakan, “Ini adalah pantai Thailand.”
Terkait hal ini, tokoh masyarakat dari Kamp Ukhiya Kutupalong Rohingya, Md Muhib Ullah, mengatakan bahwa tren ini memang sedang meningkat. Ullah bahkan menyebut ada sekitar 300 pengungsi yang dibawa ke laut menuju Malaysia.
“Tren ini sedang berkembang. Saya telah mendengar bahwa dalam beberapa hari ke depan, 700 orang dari kelompok kami akan pergi,” ungkap Md Muhib Ullah.
Bangladesh melalui Sekretaris Jenderal Komite Pencegahan penyelundupan Manusia Ukhiya, Abdul Hamid menjelaskan bahwa sindikat perdagangan manusia kembali terjadi.
“Kami telah mendengar bahwa perdagangan manusia ke Malaysia telah terjadi kembali. Beberapa orang telah pergi ke negara itu (Malaysia) melalui jalur laut. Dahulu, ada sekelompok penjahat yang sering menyelundupkan orang di masa lalu. Saya khawatir jika perdagangan itu kembali terjadi dengan kekuatan yang lebih besar (tentunya),” kata Abdul Hamid.
Sementara itu, pihak kepolisian Cox’s Bazar, Md Tofail Ahmed mengatakan bahwa pihak kepolisian akan melakukan penjagaan ketat untuk mengantisipasi aksi serupa di masa mendatang.
“Memang benar bahwa perdagangan manusia masih rendah. Akan tetapi, kelompok (perdagangan manusia) masih ada. Polisi, RAB, BGB dan penjaga pantai dalam keadaan siaga. Kami juga telah meningkatkan informasi dari intelejen. Para pedagang (manusia) tidak akan dapat membangun kegiatannya lagi di sini,” pungkas Md Tofail Ahmed. [Mohamad Deny Irawan]




















