Dalam mahfudhat yang kalian semua masih hafal disebutkan, “Man sâra ‘alad-darbi wasala.” Artinya, segala sesuatu bilamana kita lalui sebagaimana mestinya, tentu akan sampai. Maknanya, seorang pedagang yang membangun madrasah, perguruan, atau percetakan sekalipun, pokoknya kalau sâra ‘alâ tharîqihi wasala.
Ketika ditanya misalnya, bagai mana jalan memulai dan mengembangkan usaha pondok pesantren? Ya kita pikirkan dengan otak.
Kalau zaman dulu orang mau mendirikan pesantren harus nyepi, mencari impian, mencium tanahnya untuk tahu cocok atau tidak, dan sebagainya, tapi zaman sekarang tidak. Semuanya harus diperhitungkan dengan pikiran yang bisa diusahakan dengan otak. Otak harus berjalan, itu namanya ‘alad-darbi, yaitu harus kita ikuti sebagaimana mestinya.
Caranya bagaimana? Ikuti saja mana yang sudah dicapai. Kita ambil yang betul lalu kita pakai. Jadi, kalau hidup kita (pondok) sekarang terkesan lebih mudah, tapi kami Trimurti dulunya betul-betul harus melalui jalan yang sangat sulit.
Beberapa waktu lalu kami bertemu Kiai Abdullah Syafi’i, dan berbincang-bincang. Beliau mengira kalau kami membangun pondok ini di “tanah yang subur”. Saya jawab tidak. Karena ketika Trimurti ingin menghidupkan keagamaan di sini, masyâ`allâh sulitnya. Masjid begitu kecil. Ketika sembahyang Jumat, isinya hanya sebaris lebih, kadang-kadang dua baris. Bayangkan!
Orang sekitar pondok juga sudah terjerumus dalam paham-paham Gatoloco, paham ‘gusti Allah ing awake dewe’. Model sembahyangnya kering-keringan, tak pakai air, dan sebagainya.
Kemusyrikan tidak terhitung, kemaksiatan tidak terbilang. Kalau dalam suatu desa ada rame-rame, bayi lahir atau khitanan orang-orang datang, pasti ada ‘kejutan’. Yaitu nyeret opium, candu yang sudah disiapkan. Begitulah kerusakan masyarakat sekitar pondok dulu.
Mula-mula kami hanya mempengaruhi sekitar rumah, itu juga tak bisa dilakukan semua. Di antara famili kami ada yang kurang mengerti dan menganggap bahwa Trimurti mendirikan madrasah karena tak mendapat tempat untuk jadi PNS, alias pelarian karena tidak mendapat kedudukan.
Mendengar kata-kata itu kami hanya diam. Ketika itu kami sudah berniat bahwa di tempat inilah kami berjuang. Kata-kata semacam itu tidak menjadi pikiran kami.
Mempengaruhi tetangga satu Desa Gontor ini juga tidak mudah. Yang mula-mula mudah diislamkan adalah Gontor Selatan, merambah ke tengah lantas ke utara. Untuk mengislamkan sekian banyak orang itu amat sulit. Maka kalau dikatakan tempat ini subur, tidak benar. Karena kami merangkak sedikit demi sedikit hingga seperti sekarang.
Untuk ini, saya ingin anak-anakku yang memiliki pondok pesantren mengerti, jangan terburu besar, jangan terburu maju. Harus dimengerti mau ke mana. Yang dikatakan maju itu bagaimana? Dan jangan salah arah! Apakah maju itu kalau muridnya banyak? Itu salah! Maju itu kalau gedungnya besar dan bagus-bagus? Salah lagi! Dan bahkan lebih salah lagi!
Lalu, yang maju itu bagaimana? Seperti kata Pak Ihsanuddin (Mbah Ihsanuddin), maju itu kalau muridnya datang dari jauh-jauh. Dan saya ingat betul perkataan itu. Tapi apa karena anak-anak datang dari jauh lantas boleh dimanja-manja? Tidak! Atau lantas pelajarannya diubah? Tidak!
Intinya saya ingin mengingatkan, agar kalian bekerja dengan berpikir, berusaha dengan berpikir. Berusaha dengan berdoa saja itu salah! Bekerja dengan berpikir saja tidak pakai berdoa juga salah. Bekerja, berpikir, berusaha dan berdoalah. []























