Ponorogo, Gontornews — Dekan Fakultas Humaniora Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Dr Ahmad Hidayatullah Zarkasyi mengungkapkan bahwa tujuan pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Modern Darussalam Gontor adalah sebagai sarana pendidikan karakter santri.
Penjelasan Ustadz Hidayat, sapaan akrab santrinya, membuat sebagian mahasiswa Universitas Darussalam Gontor berkernyit dahi. Pasalnya, salah satu alasan masyarakat untuk memasukkan anaknya ke PMDG adalah karena bahasa Arab dan Inggris berjalan beriringan.
“Sebenarnya, kita mengajarkan bahasa Arab bukan karena bahasa Arab adalah tujuan utamanya. Namun, tujuan yang sebenarnya dari pengajaran bahasa Arab adalah untuk pembangunan karakter (character building),” ungkap Ustadz Hidayat saat memberikan tausiyah di hadapan mahasiswa di masjid jami’ UNIDA Gontor, Ponorogo, Selasa (19/3).
“Bahasa Arab diajarkan agar santri cinta dengan Ilmu. Dengan kecintaannya terhadap ilmu, ia akan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang ulama, menjadi seorang mundzirul qoum,” tambah Ustadz Hidayat menjelaskan.
Sebagai bukti bahwa PMDG tidak berfokus kepada bahasa Arab adalah kala Gontor memutuskan untuk menjadikan Fakultas Ushuluddin dan Pendidikan Agama Islam sebagai dua fakultas utama pendirian Perguruan Tinggi Darussalam (PTD sekarang UNIDA Gontor).
“Saat Gontor mendirikan perguruan tinggi, fakultas pertama yang didirikan adalah fakultas Ushuluddin, bukannnya fakultas Bahasa. Ketika beberapa tahun kemudian Gontor membuka fakultas pendidikan, yang dibuka pertama kali adalah Pendidikan Agama Islam bukan Pendidikan Bahasa Arab,” jelas Ustadz Hidayat.
Lebih lanjut, Ustadz Hidayat menambahkan bahwa sanad metode pengajaran bahasa Arab di Gontor terhubung langsung dengan salah seorang tokoh pendidikan bahasa Arab terkemuka Indonesia, Prof Dr Mahmud Yunus.
“Pak Zarkasyi, salah satu pendiri Gontor, belajar dari Prof Mahmud Yunus di Padang Panjang. Prof Mahmud Yunus adalah alumni dari Universitas Kairo, khususnya di Darul Ulum, dimana terdapat fakultas pertama yang mengajarkan bahasa Arab bagi selain orang Arab,” ujarnya.
“Saat ini, alumni-alumni dari Darul Ulum tersebar di berbagai belahan dunia dan menjadi tokoh dari pendidikan bahasa Arab. Terkhusus saat ini, banyak dari mereka tersebar di Sudan dan membuka berbagai fakultas bahasa Arab di Sudan,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]




















