الإ حسان هو أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك
“Ihsan yaitu kamu beribadah kepada Allah seakan kamu melihat-Nya dan apabila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah melihatmu.”
Tetapi berislam tingkat ini terkadang masih banyak disalahkan oleh orang yang berislam dengan jalan tarikat. Bertarikat itu berdzikir sebanyak-banyaknya kepada Allah dan beribadah sebanyak-banyaknya kepada Allah. Hingga suatu saat ia tidak melakukannya lagi karena ia merasa sudah menyatu dengan Allah. Ini adalah salah satu pemahaman sesat apabila tidak dibimbing karena ia merasa sudah memperoleh kemampuan seperti karomah.
Di dalam al-Qur’an ada sekitar 186 ayat yang menyebut kata ihsan dan ternyata ihsan ini perbuatan yang tidak dapat dilihat. Jadi perbuatan yang kita perbuat apakah ini di maqom ihsan atau tidak kita tidak tahu karena itu ada di dalam hati kita. Malaikat pun tidak tahu bagaimana suasana hati seorang Mukmin, yang tahu hanya Allah karena Allah yang membolak-balikkan hati seseorang. Apakah dia beriman atau tidak, apakah dia bermaksiat atau tidak, apakah dia ikhlas atau tidak, tidak ada yang tahu. Di dalam surat an-Nisa ayat 23 Allah berfirman:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانً
Berbuat baik kepada orang tua atau berbuat jahat padanya tidak ada yang tahu, hanya Allah yang tahu. Oleh karena itu ihsan kepada orang tahu harus dilengkapi dengan البر yaitu perbuatan baik seperti selesai melakukan ibadah haji, hajinya haji mabrur haji yang mendapatkan kebaikan-kebaikan.
Di dalam al-Qur’an tercatat bahwa ihsan ada sekitar 22 macam perbuatan, di antaranya adalah berihsan kepada orang tua, berihsan kepada tetangga, berihsan kepada anak yatim, berihsan kepada teman dan masih banyak lagi. Jadi berihsan mencakup seluruh aspek kehidupan.
Tetapi ada orang yang berbuat ihsan kepada setiap orang tetapi dia tidak baik kepada diri sendiri. Itu disebut orang humanis atau orang Islam yang sok humanis. Dia tidak shalat dan tidak berbuat maksiat. Dia selalu berbuat baik kepada setiap orang, tidak pernah berbuat jahat. Itu sama saja zalim kepada diri sendiri dan baik kepada orang lain. Itu bagi Allah tidak ada gunanya seperti kalian membayar zakat tetapi tidak shalat. Itu zakat kalian tidak ada apa-apanya, maka ihsan bukan berarti sekedar perbuatan baik.
Perbuatan baik ada tingkatannya
- Berbuat baik kepada diri sendiri
- Berbuat baik kepada orang lain
- Berbuat baik kepada Allah
Perbuatan baik kepada diri sendiri penting, kepada Allah juga penting. Tapi yang paling baik perbuatan baik kepada orang lain karena bukti kalian cinta kepada Allah adalah berbuat baik kepada orang lain. Maka perkataan seorang sufi Hasan Al-Basri yang berkata “aku lebih suka memenuhi hajat saudaraku daripada iktikaf setahun lamanya. Berarti membantu orang lain pahalanya lebih tinggi dari pada iktikaf. Itu hanya satu contoh. Belum lagi berkata baik kepada saudaranya, berbaik sangka kepada saudaranya.
Tingkat ibadah kepada Allah itu ada tiga. Ali bin Abi Thalib berkata, tingkat ibadah yang pertama adalah tingkat ibadahnya orang-orang pedagang karena pedagang ini kalau tidak untung, rugi. Maka ia masih menghitung untung ruginya. Dia hitung pahala-pahala yang besar saja. Orang-orang seperti ini disebut al-ibad atau hamba.
Kedua adalah ibadahnya seorang ahli ibadah. Dia menghamba kepada Allah sebagaimana seorang budak pasrah kepada pemiliknya. Seorang budak yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali yang diperintah tuannya, apa yang dicari oleh orang ini yaitu dia mencari ridha Allah. Apa yang Allah ridhai ia kerjakan dan apa yang dilarang ia tinggalkan. Jangankan yang dilarang, yang syubhat saja dia tinggalkan.
Ketiga ibadatul arifin, yang dia inginkan adalah ma’rifatullah, mengenal Allah. Mengenal Allah itu engkau memahami apa yang menjadi iradatullah. Mengenal Allah adalah tingkatan yang tertinggi. Orang yang seperti ini sudah tidak perlu berdoa karena Allah sudah tahu apa yang ada di dalam hatinya. Dan orang yang seperti ini dia tidak berani meminta kepada Allah karena ia merasa bahwa dirinya hina. Apalah hak saya meminta sesuatu orang yang fakir ini, keikhlasan orang-orang seperti ini tidak perlu ditanyakan.
Al-Muhibbin hidup itu adalah untuk mencintai Allah seperti hadist ini:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْت
Dia tidak shalat tahajud, tidak puasa Senin Kamis, tapi ketika ditanya oleh Rasululloh SAW, “Apa yang kamu miliki?”, dia hanya menjawab, “Saya mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Berarti kalau tingkat cinta kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, shalat sedikit banyak amalnya tetapi semua karena Allah Ta’ala. Hati-hati shalatnya banyak, puasanya banyak, tapi amal di luar itu tidak ihsan tingkatannya, itu seperti anda masih berfikir seperti ibadah seorang pedagang.
Jadi mari kita awali membiasakan diri beribadah kepada Allah dengan tingkat ibadah yang setinggi-tingginya agar kita dapat meningkatkan keimanan kita setiap hari. Yang dicari bukan pahala meskipun kita yakin akan diberikan pahala oleh Allah, akan tetapi yang kita cari adalah taqarrub kepada Allah.
اللهم إني أسألك حبك وحب من يحبك، وحب كل عمل يقربني إلى حبك
Apabila kita dicintai oleh Allah, hidup di dunia maka anda tidak perlu khawatir. Maka dari itu kita harus mencitai Allah.
Ini adalah tingkatan-tingkatan bagaimana kita berislam, maka Islam adalah amal. Di dalam Qur’an disebutkan:
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Jadi berihsan seperti ini, kalau dia berkata dia tidak berkata yang buruk. Kalau dia berbuat, dia tidak pernah berbuat yang dilarang. Kalau dia melakukan sesuatu, dia berniat untuk mencari ridho Allah, dan cintanya cinta kepada Allah SWT.[]





















