Yogyakarta, Gontornews — Tumplek bleg suasana Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta malam tadi, tepatnya pada Selasa Malam 20 Februari 2018. Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor (IKPM Yogyakarta) menggelar sarasehan dan pengajian bersama Cak Nun Emha Ainun Nadjib. Selain sarasehan dan pengajian, acara malam tadi juga dimeriahkan dengan pelantikan anggota Forum Bisnis Alumni Gontor (FORBIS). Acara dibuka dengan launching kartu anggota FORBIS dengan menganugerahkan penghargaan sebagai anggota kehormatan di antaranya kepada Emha Ainun Najib, Prof. Dr. Siswanto Masruri, Prof. Dr. M. Akhyar Adnan, dan Prof. Dr. M. Hawin.
Ketua IKPM Gontor Cabang Yogyakarta, H.M. Fakhrur Rozi dalam sambutannya menjelaskan bahwa acara ini terselenggara berkat kerja sama seluruh jajaran alumni Gontor yang berada di Yogyakarta. Ia terutama berterima kasih kepada Cak Nun yang sudi hadir di tengah padatnya jadwal sebagai tokoh nasional. Ia juga menghaturkan terima kasih kepada seluruh alumni Pondok Modern Gontor dan wali santri Gontor di Yogyakarta yang telah membantu memberikan support pada saat bencana tanah longsor dan banjir di Yogyakarta beberapa bulan silam. Dengan bantuan dan dedikasi para alumni mampu merekonstruksi sebuah masjid dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Juga dapat merelokasi rumah seorang alumni Pesantren Gontor Putri yang sedang berjuang di pelosok Yogyakarta yang rumahnya hilang ditela longsor.
Fahru Rozi juga menegaskan bahwa saat ini animo masyarakat terhadap kiprah alumni Gontor di Yogyakarta semakin besar. Dari tahun ke tahun santri yang berasal dari Yogyakarta semakin bertambah dengan kelulusan yang cukup signifikan. Terlebih hampir setiap tahun para alumni selalu mengadakan bimbel masuk Gontor yang biasanya diadakan selama bulan Ramadhan. Bahkan tahun ini pendaftar sudah ada 60 anak, dua di antaranya dari Jedah dan Amerika. Sementara itu, yang tidak kalah pentingnya bahwa IKPM Gontor Yogyakarta telah menerima amanah dari Gontor sebidang tanah + 600 M di Kebon Agung, Imogiri, Yogyakarta. Rencana ke depan tanah wakaf ini akan diberdayakan untuk Gontor Centre.
Pada malam tadi juga diresmikan pendirian FORBIS Alumni Gontor Yogyakarta sekaligus pelantikan pengurus baru FORBIS oleh Ketua Umum Forbis Pusat yang diwakili oleh Ustadz Selfi Khirjil Yaman. Adapun susunan kepengurusan FORBIS Cab Yogyakarta di antaranya: Denny Neilment dan Adam Basyori (Ketua), Haris Susmana dan Hamdan Isnan Nugroho (Sekretaris), dan Bara Septian Larasati dan Atika Maulida (Bendahara), Roni Susanto dan Ari M. Arsyad Atapakun (Divisi Humas), dan Wawan Wasugi (Divisi Pelatihan dan Pengembangan Usaha Alumni [PPUA])
Acara dipungkasi dengan sarasehan dipandu oleh Ustadz Marjoko Idris. Sebagai pembicara utama adalah Ustadz Emha Ainun Najib didampingi oleh Ustadz Siswanto Masruri. Sebagaimana biasa, dengan suara yang menggema Cak Nun mengakrabkan suasana dengan ungkapan khasnya “Tashilan Li wa Tafhiman Lakum sa atakallamu bil lughatil Indonisia [untuk kemudahan saya dan membantu pemahaman Anda, saya akan berbicara dengan bahasa Indonesia)” kemudian dibuka dengan dengan menyitir satu ayat QS. Ar-Rahman ayat 33. Yang artinya: “Wahai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
Dalam menjelaskan ayat tersebut, Emha ingin mengatakan kepada para alumni yang hadir untuk memulai memiliki kedaulatan, baik secara individual maupun komunal. Karena Indonesia sampai saat ini Indonesia dianggap sebagai negara ketiga (Third Country). “Dalam rentang sepuluh tahun ke depan, perubahan besar-besaran akan terjadi. Dan negara-negara Asia, termasuk Indonesia akan menjadi negara pertama (First World Country). Persoalannya, di negara tingkata pertama ini Anda akan menjadi apa? Cleaning Service, enterpreneur kelas menengah ke bawah, dodol soto (jualan soto). Anda sebagai orang Indonesia akan berada di level yang mana?” Tegas Cak Nun.
Tidak hanya itu, seperti biasa Cak Nun juga membuka cakrawala kesadaran audiens dengan pertanyaan-pertanyaan menggugah. Ia menegaskan, “Jadi kalo ngomong FORBIS, menurut saya, mulai sekarang jangan tanggung-tanggung bercita-cita. Kalau cuma memberikan kursus bisnis, enterpreneurship, kewirausahaan itu wes lawas (kadaluarsa). Gak usah kursus kalau serius pasti bisa. Mungkin bisa ditambah wawasannya yang berkaitan dengan bisnis dalam Islam, dan lain sebagainya. Jadi kita harus bisa melampauai tiga sistem dan satu kesatuan: Zira’ah (menanam), Shina’ah (pengolahan), dan Tijarah (penjualan). Sedangkan tugas Negara adalah mengamankan agar tidak ada broker di antara ketiga hal tersebut. Tetapi sekarang yang terjadi di antara ketiga hal tersebut diisi oleh broker-broker siluman.”
Bersinggungan dengan ayat di atas, Cak Nun menjelaskan, “Jadi berbicara tentang FORBIS, Anda harus menentukan kaliber untuk “menembus (tanfudzu)” sasaran. Anda mau sekadar jadi plinteng (ketapel), pistol, AKA 38, 42, atau mau jadi rudal? Anda orang Gontor harus bercita-cita menjadi konglomerat. Anda harus benar-benar menguasai, man jadda wa jada, ma sara ‘alad darbi washala. Maka, tembuslah (fan fudzu), dan yang ditembus apa? Mau pake pisau, obeng, atau apa?”
Perlu diketahui, saat ini jumlah alumni Gontor yang berdomisili di Yogyakarta berjumlah sekitar 800 orang, dan 500 di antaranya para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di berbagai kampus baik negeri maupun swasta. Adapun FORBIS merupakan forum silaturahmi bisnis dan jaringan sesama alumni Gontor di seluruh Indonesia yang langsung berada di bawah arahan dan bimbingan Pimpinan Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jatim. []





















