Bogor, Gontornews — Dunia pesantren seluruh Indonesia berduka atas wafatnya KH Jamhari Abdul Jalal Lc, Pimpinan Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (27/10/2026). Ia mengembuskan nafas pada usia 77 tahun setelah menjalani perawatan intensif di RS Premier Bintaro pada pukul 09.53 WIB.
Kepergian KH Jamhari menjadi kehilangan besar bagi keluarga, para santri, guru, alumni, serta masyarakat yang mengenal kiprah dan pengabdiannya. Semasa hidup, ia mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan Islam dan pengembangan pesantren.
KH Jamhari lahir di Parakan Sebaran, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sejak kecil, ia menjalani pendidikan agama melalui madrasah diniyah, pengajian di masjid dan mushala, serta pendidikan formal. Lingkungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal yang membentuk kedekatannya dengan dunia pendidikan Islam.
Pendidikannya berlanjut ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Setelah menamatkan pendidikan di Gontor, ia melanjutkan studi di Universitas Ummul Qura, Mekkah, Arab Saudi, pada bidang Syariah.
Sepulang dari Arab Saudi, KH Jamhari mengabdikan diri di sejumlah lembaga pendidikan pesantren. Ia pernah berkiprah di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Pondok Modern Darussalam Gontor, Darur Rahman Jakarta, dan Darunnajah Ulujami Jakarta.
Perjalanan pengabdiannya kemudian berlanjut di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor. Di lembaga tersebut, ia mengemban amanah sebagai pimpinan pesantren dan turut mengarahkan perkembangan pendidikan serta pembinaan santri. Ia juga dikenal sebagai Ketua Dewan Nazir Yayasan Darunnajah.
Bagi KH Jamhari, pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan lingkungan untuk membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai keislaman, dan menyiapkan generasi penerus umat. Pandangan tersebut tercermin dalam konsistensinya mengabdikan diri di dunia pendidikan pesantren.
Dalam sebuah pengajian bersama para guru pada 27 Januari 2022, situs Darunnajah mengangkat ungkapan KH Jamhari, “Ruh saya selalu di pesantren.” Ungkapan tersebut menggambarkan kedekatan batinnya dengan lembaga pendidikan yang menjadi ruang pengabdiannya selama bertahun-tahun.
Pengabdiannya juga menjangkau pembinaan kepramukaan. Pada 2018, KH Jamhari menerima Lencana Darma Bakti dari Gerakan Pramuka atas kontribusinya dalam pembinaan dan pengembangan kegiatan kepramukaan.
Kepergian KH Jamhari menandai berakhirnya perjalanan seorang pendidik yang menempatkan pesantren sebagai bagian penting dalam hidupnya. Namun, nilai-nilai pendidikan, keteladanan, dan pengabdian yang ditanamkannya diharapkan terus hidup melalui para santri, guru, dan generasi penerus.
“Semoga seluruh amal shalih almarhum diterima Allah Ta’ala dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan serta husnul khatimah, in syaa Allah,” tutup Pimpinan Pesantren Darunnajah Jakarta, KH Hadianto Arif, dalam akun facebook-nya. [Mohamad Deny Irawan]
























