Paris, Gontornews — Seorang mahasiswa Muslimah calon pengacara menuduh lembaga pendidikan hukum terkemuka di Prancis telah melakukan tindakan Islamofobia. Seorang mahasiswa bernama Sarah, kepada Revolution Permanente, mengaku keluar dari acara pengambilan sumpah pengacara setelah lembaga bernama I’Ecole de Formaton des Barreux (EFB) memintanya untuk melepas jilbab.
Sarah mengaku bahwa empat staf EFB memaksanya untuk melepas penutup kepalanya. “Kamu harus melepas jilbabmu. Jika Anda tidak melepasnya, Anda harus keluar dari ruangan ini dan tidak dapat mengambil sumpah,” kata Sarah mengutip pernyataan staf EFB.
Sarah mengaku bahwa kejadian tersebut membuatnya merasa terancam dan terhina setelah petugas tersebut membentaknya di muka umum. Sarah pun mengaku tidak memiliki pilihan lain selain keluar dan tidak mengikuti pengambilan sumpah. Dia bahkan diminta untuk menanggalkan jilbab jika masih bercita-cita menjadi pengacara profesional.
Pada kesempatan yang sama, EFB mengundang Richard Malka sebagai pembicara tamu. Malka terjadwal untuk memberikan pidato di hadapan para calon pengacara tentang menegakkan kebebasan berbicara. Ia terkenal setelah melawan tuduhan rasisme terhadap majalah satir, Charlie Hebdo, yang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad.
“Setengah jam sebelum berpidato, mereka meminta saya melepas jilbab. Saya menemukan, (pidato) itu benar-benar munafik,” ucap Sarah sebagaimana dilansir Anadolu Agency.
Mahasiswa lain, Romane, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut mengecam sistem hukum rasis yang mendiskriminasi kalangan minoritas.
“Setelah seorang wanita muda dipermalukan dan diekspos di depan umum, Richard Malka memberikan pidato yang mengatakan bahwa satu-satunya tempat di mana kita memiliki kebebasan berekspresi adalah di pengadilan,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]





















