Bogota, Gontornews — Pemerintah Kolombia memberlakukan karantina berskala nasional demi mencegah penyebaran COVID-19. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden Kolombia, Ivan Duque, Jumat (20/3). Presiden Duque menyebut karantina nasional ini akan berlangsung untuk 19 hari ke depan.
Sejauh ini, Kolombia mengonfirmasi 158 kasus COVID-19 dan belum melaporkan satupun informasi kematian akibat virus tersebut. Namun, sebagian besar pasien memiliki riwayat perjalanan ke Eropa.
Presiden Duque mengatakan bahwa kebijakan itu juga mencakup pembatasan bagi warga untuk keluar rumah. “Dalam beberapa minggu ke depan, kami memiliki langkah kolektif untuk membatasi penularan virus,” kata Duque sebagaimana dilansir Reuters.
Sumber-sumber pemerintah menjelaskan bahwa pembatasan ini tidak berlaku bagi personel medis, pasukan keamaman serta pekerja apotek dan supermarket.
Pemerintah Kolombia juga berencana untuk menutup penerbangan internasional Senin mendatang. Pemerintah juga meminta kepada warga berusia 70 tahun ke atas untuk tetap berada di dalam rumah hingga akhir Mei mendatang. Pembatasan juga berlaku dengan penutupan aktivitas sekolah dan bar.
Pemerintah sendiri memberikan ‘latihan karantina’ bagi warganya selama beberapa hari pada Jumat hingga Senin mendatang. Latihan ini diberikan agar penduduk mempersiapkan kebutuhan sebelum pembatasan nasional diberlakukan.
“Saya belum pernah melihat Bogota seperti ini sepanjang hidup saya,” kata seorang warga Kolombia, Blanca Cecilia Hernandez.
“Karantina wajib akan berbahaya bagi banyak orang. Saya punya anak yang harus pergi bekerja untuk menghidupi keluarga mereka,” imbuh Hernandez.
Sementara itu, Walikota Bogota, Claudia Lopez, tetap mengizinkan kedatangan bus antarkota tapi tidak mengizinkan mereka untuk kembali keluar kota Bogota. Pun dengan para penumpang pesawat terbang yang diminta untuk membuktikan perjalanan mereka kepada otoritas setempat.
“Kebijakan ini kami lakukan lebih cepat ketimbang dilakukan sebelum karantina wajib diberlakukan. Penting bahwa selama empat har ini, mereka mempelajari bagaimana caranya hidup (di karantina nasional),” jelas Lopez. [Mohamad Deny Irawan]




















