Beijing, Gontornews — Pemerintah Cina memutuskan untuk melarang segala bentuk penjualan satwa liar di Cina, Ahad (26/1). Larangan ini akan segera diberlakukan hingga penyebaran virus yang masuk kategori “epidemik nasional” tersebut selesai tertangani.
Tidak hanya penjualan satwa liar, pemerintah Cina juga memberlakukan karantina pusat penangkaran satwa liar, penegakan aturan serta memperingatkan warga agar tidak mengonsumsi satwa liar.
“Konsumen harus sepenuhnya memahami risiko kesehatan saat memakan satwa liar, menghindari daging buruan serta mengonsumsi makanan sehat,” ungkap pernyataan resmi dari Administrasi Negara untuk Regulasi Pemasaran, Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan, dan Administrasi Kehutanan Nasional, Ahad (26/1).
Keputusan ini dibuat menyusul makin meningkatnya korban jiwa akibat penyebaran virus korona Wuhan yang menewaskan 80 orang, menginfeksi 2.800 orang dan telah menyebar ke 14 negara di dunia dari Taiwan, Hong Kong, Malaysia hingga Amerika Serikat dan Eropa.
Langkah ini juga mendapatkan persetujuan dari 19 ilmuwan Cina terkemuka yang mendukung penghapusan konsumsi serta perdagangan satwa liar. Mereka juga mengatakan bahwa sejumlah penyakit menular seperti sindrom pernapasan akut (SARS), Flu Burung H7N dan Middle East Respiratory Syndrome disebabkan oleh hewan.
“Upaya kontrol atau menghentikan santapan serta perdagangan satwa liar tidak hanya diperlukan demi perlindungan ekologis tetapi juga sangat penting untuk mengendalikan kesehatan masyarakat,” ungkap pernyaataan kelompok 19 ilmuwan di Cina sebagaimana dilansir South Cina Morning Post.
Pemerintah mencurigai adanya keterkaitan antara konsumsi daging satwa liar dengan penyebaran virus korona Wuhan setelah sejumlah pasien awal dengan gejala Pneumonia ditemukan bekerja atau tinggal di dekat Huanan Wholesale, Wuhan. [Mohamad Deny Irawan]






















