Bogor, Gontornews — Bulan Ramadhan merupakan bulan madrasah. Madrasah ruhani dan sosial bagi umat Islam. Demikian disampaikan Wakil Direktur 1 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Dr H Abas Mansur Tamam Lc MA, pada acara buka puasa bersama (Bukber) dengan para alumni dan mahasiswa Program Studi (Prodi) Magister Teknologi Pendidikan (MTP) di Kampus UIKA, Selasa (3/3/2026).
Hadir pada kesempatan itu Wakil Rektor bidang Kerjasama, Inonasi dan Pengembangan UIKA Prof Dr Widyasari MPd, Direktur Sekolah Pascasarjana UIKA H Hendri Tanjung PhD, Wakil Direktur 2 Sekolah Pascasarjana UIKA Dr H Ibdalsyah MA, Sekretaris Program Magister Teknologi Pendidikan UIKA Dr Rudi Hartono MPd, sesepuh MTP UIKA Prof Dr H Zainal Abidin Arief MSc, serta para alumni dan mahasiswa MTP.
Lebih lanjut Abas menuturkan, pada bulan Ramadhan umat Islam dilatih menahan diri, memperkuat keikhlasan, serta membangun kedisiplinan ibadah. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi proses pendidikan jiwa agar lahir pribadi yang bertakwa, sabar, dan berintegritas.
Sebagai madrasah, Ramadhan juga mengajarkan pentingnya memperbanyak tilawah Al-Qur’an. “Umat Islam didorong tidak hanya membaca, tetapi juga mentadabburi maknanya, memahami pesan-pesannya, dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari, baik pribadi maupun sosial,” ujar dosen kelahiran Ciamis, 5 Februari 1971, itu.
Abas menyebutkan, tradisi ulama sejak masa Nabi Muhammad menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan momentum penguatan hubungan dengan Al-Qur’an. Dari madrasah Ramadhan inilah lahir generasi berkarakter kuat yang membangun peradaban.
Peradaban Islam tumbuh dari fondasi wahyu dan akhlak. Ia bukan sekadar kekuatan politik, tetapi sistem nilai yang melahirkan keadilan, ilmu pengetahuan, dan kemajuan sosial. Peradaban Islam membangun pusat-pusat ilmu, memperkaya khazanah sains, dan memberi kontribusi besar bagi dunia.
Sejarah mencatat bahwa peradaban besar seperti Persia, Romawi, dan India pernah mencapai puncak kejayaannya. Namun, dinamika sejarah menunjukkan bahwa setiap peradaban memiliki siklus naik dan turun. Banyak dari mereka yang kini tinggal sebagai catatan sejarah, bukan lagi kekuatan dominan dunia. “Peradaban besar Persia, Romawi dan India telah berlalu,” papar doktor lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, itu.
Sementara itu, Islam membawa visi peradaban yang melampaui batas geografis dan waktu. Ajarannya diyakini relevan hingga akhir zaman, karena bersumber dari wahyu yang terjaga. Keunggulan peradaban Islam tidak semata pada kekuatan material, tetapi pada nilai tauhid, keadilan, dan kemanusiaan yang menjadi fondasinya.
Karena itu, Ramadhan sebagai madrasah harus melahirkan kebangkitan peradaban dalam diri setiap Muslim. “Dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, memahami isinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata, umat Islam meneguhkan kembali fondasi peradaban yang unggul dan berkelanjutan hingga hari kiamat,” kata Abas pada Bukber bertajuk “Merajut Silaturahmi, Berbagi Inspirasi di Bulan yang Berkah” itu. []























