Dhaka, Gontornews — Otoritas kesehatan Bangladesh mengonfirmasi total 127 kematian akibat demam berdarah dengue (DBD). Selain jumlah kematian, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan (DJP) melaporkan 1.533 rawat inap dan mengonfirmasi total kasus DBD secara nasional mencapai 24.000 kasus. Bagi DJP, angka kematian tersebut menjadi jumlah kematian akibat DBD tertinggi dalam lima tahun terakhir.
DJP mengonfirmasi jumlah kematian akibat DBD terbanyak berjenis kelamin wanita. Sementara itu, dari segi usia, orang-orang yang berusia 18-40 tahun lebih terpengaruh dan meninggal dunia. Sedangkan korban meninggal dari kalangan anak-anak mencapai 24 kasus.
Sepanjang bulan Juli, 80 orang telah meninggal karena DBD. Angka ini menjadi yang tertinggi ketimbang periode yang sama tahun lalu di angka sembilan kasus kematian.
Pakar kesehatan Bangladesh, Senin (16/07/2023), meminta pemerintah untuk mengambil tindakan lebih lanjut dalam menangani kasus DBD. Anadolu melansir, mereka menganggap situasi DBD di negeri Asia Selatan tersebut beradal di luar kendali.
“Situasi DBD memburuk dalam periode satu bulan berjalan. Selama penelitian di laboratorium, kami membuat model setelah menganalisis beberapa faktor seperti kepadatan populasi nyamuk Aedes, jumlah penderita, suhu, kelembaban dan curah hujan,” kata Prof Dr Kabirul Bashar, Ahli Entomologi dari Universitas Jahangirnagar kepada Dhaka Tribune.
“Jelas bahwa situasi demam berdarah dapat memburuk dalam beberapa hari mendatang. Ini bisa berubah menjadi serius di bulan Agustus dan September,” sambungnya.
Kabirul menjelaskan pemerintah harus mengelola wilayah episentrum DBD serta mendorong pelaksanaan fogging untuk memberantas nyamuk Aedes.
“Pihak berwenang dapat mendeteksi orang yang terinfeksi melalui alamat mereka dan membunuh nyamuk melalui mesin fogging. Selama nyamuk (Aedes) ini masih hidup, DBD akan menyebar ke seluruh wilayah,” imbuh Kabirul.
Bangladesh melaporkan jumlah kematian tahunan tertinggi terkait demam berdarah pada tahun 2022, ketika 281 orang meninggal akibat penyakit tersebut. [Mohamad Deny Irawan]




















