Tirana, Gontornews — Pemerintah Albania, Senin (6/4), mendesak warganya untuk mematuhi aturan jarak sosial atau social-distancing demi mencegah penyebaran COVID-19. Perdana Menteri Albania, Edi Rama, mendesak 100.000 warga Shkodra untuk memberlakukan pembatasan ketat dan pergerakan bisnis.
“Tolong hormati aturan dan berhati-hatilah karena Shkoder berpotensi berubah menajadi bom waktu,” kata Edi Rama sebagaimana dilansir Reuters.
Pada Senin (6/4), Pemerintah Albania mengonfirmasi 16 kasus infeksi COVID-19 atau turun dari jumlah kasus sehari sebelumnya yang mencapai 28 kasus. Secara total, kasus korona di negara Balkan tersebut mencapai 377 kasus dengan 22 diantaranya meninggal dunia.
Dengan populasi 2,8 juta warga, Albania terus menggencarkan pelacakan kontak kasus COVID-19 atau mereka yang memiliki gejala. Sejauh ini, Pemerintah Albania telah melakukan 2.571 tes.
Menteri Kesehatan Albania, Ogerta Manastirliu mengatakan pihaknya telah memesan sekitar 30.000 paket pengujian COVID-19.
“Para ahli memilih strategi pengujian. Kami menerapkan rekomendasi WHO untuk melakukan pengujian, pengujian dan pengujian di setiap kasus yang diduga,” kata Manastirliu, sebagaimana dilansir Reuters.
Manastirliu menambahkan Albania bergabung dengan International Public Heath Emergency Solidarity yang digagas WHO. Organisasi solidaritas itu dibentuk untuk mengoptimalkan protokol pengobatan COVID-19.
PM Rama menjelaskan jika Albania tidak menerapkan penguncian dengan keras dan ketat, jumlah penularan dan kematian akan terjadi 10 kali lebih tinggi.
Pemerintah Albania, sebut Rama, mengizinkan warganya keluar rumah 90 menit dalam sehari. Ia juga mengizinkan para pengemudi untuk bekerja selama mereka tidak membawa anggota keluarga ataupun kelompok rentan penyakit. [Mohamad Deny Irawan]


















