10
Tonton Selengkapnya
Prof Syam
30 °c
Pecenongan
Wed
Thu
Tuesday, 21 July, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Di Balik Tembok Pondok: Apa yang Tidak Diajarkan Algoritma

Oleh Hadiyanto Arief, Pengasuh Pesantren Darunnajah

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
3 March 2026
in Kolom
0
Golden Circle dan Eksistensi Pesantren di Indonesia

Pesantren, generasi yang kesepian, dan jawaban tertua untuk krisis paling modern.

Saya mengasuh pondok pesantren di jantung metropolitan. Bukan di kaki gunung yang sejuk, bukan di pedesaan yang sunyi, tapi di tengah hiruk-pikuk kota besar — di mana suara adzan bersaing dengan klakson, di mana tembok pondok berbatasan langsung dengan mal dan billboard raksasa, di mana santri-santri saya bisa mendengar dentuman musik dari kafe seberang jalan ketika mereka sedang mengaji ba’da Maghrib.

Setiap hari saya menyaksikan kontras yang tidak dilihat banyak orang. Di satu sisi tembok, ribuan anak muda kota bergerak cepat — mata ke layar, earbuds terpasang, hidup dalam gelembung digital masing-masing. Di sisi tembok yang lain, santri-santri saya duduk bersila di lantai masjid, menghafal Al-Qur’an, belajar kitab kuning, dan berbagi cerita sampai larut malam tanpa satu pun smartphone di tangan.

Posisi ini — mengasuh pondok di tengah kota — memberi saya sebuah perspektif yang unik. Saya bukan pengamat dari menara gading. Saya hidup di perbatasan antara dua dunia itu setiap hari. Dan saya melihat, dengan mata kepala sendiri, betapa lebarnya jurang di antara keduanya.

Tapi cerita ini bukan tentang pondok saya. Cerita ini tentang anak saya.

BACA JUGA

Metode Pendidikan dan Pembinaan Santri Melalui Lisaanul Haal

Dari Santri Menjadi Guru: Transisi Identitas di Era Digital

Tiga Pilar Penting dalam Pengelolaan Pesantren: Mesin, Karoseri, dan Asesoris

Akhlak dan Adab sebagai Fondasi Peradaban: Perspektif Imam Al-Ghazali, Ibn Miskawaih, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dan KH Imam Zarkasyi untuk Menyongsong Abad Kedua Gontor

Membangun Manusia Menyalakan Peradaban: Membaca Posisi Perempuan dalam Falsafah Pendidikan Gontor

Sore di Teras Rumah

Anak saya baru menuntaskan enam tahun mondok. Bukan di pondok yang saya asuh — saya sengaja menitipkannya di pondok lain, cukup jauh dari kota tempat saya mengabdi. Saya ingin ia tumbuh dengan usahanya sendiri, tanpa bayang-bayang nama ayahnya. Enam tahun. Dari kelas 1 SMP sampai lulus SMA. Dari zaman pandemi, hingga zaman Eipstein files.

Sore itu kami duduk di teras rumah, koper-koper masih berjajar di ruang tamu. Ijazah sudah difoto, dikirim ke grup keluarga besar. Rumah yang selama enam tahun hanya menyimpan rindu mendadak terasa utuh lagi.

Ia bukan lagi bocah yang dulu saya antar dengan perasaan campur aduk ke gerbang pondok. Ia pulang sebagai seseorang yang — saya tidak tahu persis kapan itu terjadi — terasa lebih dewasa dari banyak mahasiswa yang saya temui, bahkan lebih matang dari beberapa ustadz muda di pondok saya sendiri.

Saya bertanya, separuh penasaran, separuh ingin memastikan bahwa keputusan enam tahun lalu itu sepadan:

“Nak, kalau boleh jujur… apa sih yang paling kamu rindukan dari kehidupan di pondok?”

Saya — yang sehari-hari mengurus pondok, yang hidup di lingkungan pesantren, yang seharusnya paling tahu jawabannya — mengira ia akan bicara soal makanan kantin, atau kebebasan di hari libur, atau pagelaran seni tahunan yang selalu heboh. Tapi anak saya diam sejenak. Matanya menerawang. Lalu ia menjawab dengan tenang:

“Rasanya dibangunin sahur sama teman sekamar, terus shalat bareng di masjid waktu dunia masih gelap. Kita ngantuk semua, tapi kita ngantuk bareng. Habis itu ngaji bareng sampai Shubuh. Nggak ada HP, nggak ada notifikasi. Cuma suara Qur’an dan napas teman-teman.”

Ia tersenyum.

“Itu, Yah. Perasaan nggak sendirian. Perasaan hidup bareng orang-orang yang tujuannya sama. Kayak punya kampung sendiri. Di luar sana, teman-teman seumuranku scrolling TikTok sendirian di kamar. Di pondok, kita rebahan di aula bareng 40 orang sambil cerita sampai ketiduran.”

Saya terdiam cukup lama.

Ini ironis. Saya seorang pengasuh pondok. Saya hidup di dunia pesantren. Saya mengurus ratusan santri setiap hari, memikirkan kurikulum mereka, mendampingi pertumbuhan mereka. Tapi baru sore itu — dari mulut anak saya sendiri — saya benar-benar memahami apa yang sesungguhnya sedang pondok berikan kepada generasi ini.

Anak saya tidak merindukan fasilitas. Ia merindukan kebersamaan. Bukan konektivitas digital, tapi koneksi manusiawi. Bukan konten, tapi makna.

Malam itu, setelah ia tidur, saya membuka laptop. Saya mulai membaca data-data yang selama ini hanya sempat saya lihat sekilas di antara kesibukan mengurus pondok. Kali ini saya membacanya dengan mata yang berbeda — mata seorang ayah yang baru saja mendapat konfirmasi dari anaknya sendiri, dan mata seorang pengasuh pondok yang selama ini mungkin terlalu sibuk mengelola, sampai lupa melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi di balik rutinitas.

Yang Saya Lihat di Luar Tembok Pondok

Sering kali, ketika saya berjalan keluar dari rumah saya, saya melewati halte bus dan stasiun di depan kompleks pertokoan. Ratusan anak muda berdiri di sana — usia mereka tidak jauh dari santri-santri saya. Tapi ada perbedaan yang selalu membuat saya merasa aneh: mereka semua berdiri sendiri-sendiri, masing-masing tenggelam di layar ponselnya. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang saling menatap. Mereka berdekatan secara fisik, tapi terpisah sepenuhnya.

Saya selalu mengira itu pilihan. Generasi mereka memang begitu, pikir saya. Ternyata itu gejala.

Survei Cigna pada 2018 menemukan sesuatu yang paradoks: anak-anak muda usia 18–22 tahun ternyata lebih kesepian daripada orang-orang berusia di atas 72 tahun. Generasi yang paling “terhubung” secara digital justru paling terputus secara emosional. Gejala epidemi kesepian yang sedang melanda generasi mereka.

Angka-angkanya terus memburuk. Riset Springtide Research Institute menemukan bahwa satu dari tiga anak muda usia 13–25 tahun merasa sepenuhnya sendirian hampir sepanjang waktu. Laporan Hopelab dan Data for Progress tahun 2025 menunjukkan 61% anak muda merasakan kesepian berdampak pada kesehatan mental mereka, dan 35% mengaku kesepian mengganggu aktivitas sehari-hari. Skor Gen Z pada UCLA Loneliness Scale rata-rata 48,3 dari 80 — jauh di atas Milenial (45,1) dan Gen X (42,4). American Psychological Association mencatat bahwa tingkat kesepian Gen Z hampir dua kali lipat dibanding generasi sebelumnya pada usia yang sama.

Penelitian Jean Twenge menunjukkan bahwa setelah 2011 — tahun kepemilikan smartphone di kalangan remaja melonjak tajam — perasaan kesepian meningkat drastis. Remaja SMA tahun 2016 menghabiskan satu jam lebih sedikit per hari untuk interaksi tatap muka dibanding remaja tahun 1980-an. Mereka punya ribuan followers, tapi makin sedikit teman yang benar-benar bisa diajak bicara sambil saling menatap mata.

Saya meletakkan laptop dan berjalan ke jendela. Dari situ, saya bisa melihat asrama pondok saya. Lampu-lampu masih menyala di beberapa kamar. Santri-santri saya pasti sedang duduk melingkar di lantai, mengobrol, mungkin berdebat soal pelajaran besok, mungkin bercanda, mungkin curhat tentang rindu rumah. Tidak ada smartphone. Hanya wajah-wajah yang saling menatap.

Saya mendirikan pondok di tengah kota karena saya percaya bahwa anak-anak kota juga berhak mendapat pendidikan pesantren. Tapi baru malam itu saya menyadari: saya tidak hanya menyediakan pendidikan agama. Saya menyediakan perlindungan dari kesepian — di tengah kota yang penuh manusia tapi miskin pertemuan.

Popcorn Brain di Depan Gerbang Pondok

Sebagai pengasuh pondok di kota besar, saya menyaksikan sebuah kontras yang tidak mungkin lebih tajam.

Setiap tahun ajaran baru, orang tua mengantarkan anak-anak mereka ke pondok saya. Minggu-minggu pertama selalu yang paling berat. Bukan karena santri baru menangis atau rindu rumah — itu wajar dan bisa ditangani. Yang membuat saya prihatin adalah gejala lain: banyak dari mereka yang tidak bisa duduk tenang selama lebih dari sepuluh menit. Mereka gelisah, tangan meraba-raba saku celana mencari ponsel yang sudah dititipkan. Mata mereka kosong ketika ustadz membacakan kitab. Mereka terbiasa menerima informasi dalam potongan 15 detik, dan tiba-tiba diminta mendengarkan penjelasan selama satu jam.

Para psikolog menyebut kondisi ini “popcorn brain” — otak yang gelisah, terus membutuhkan stimulasi baru, melompat dari satu hal ke hal lain seperti jagung yang meletus tanpa jeda. Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri di setiap angkatan baru.

Dan ternyata data ilmiahnya sangat kuat. Dr Gloria Mark, salah satu pakar atensi paling dihormati di dunia, menemukan bahwa rata-rata orang kini berpindah perhatian setiap 47 detik saat bekerja di layar. Empat puluh tujuh detik. Waktu untuk satu tugas sebelum beralih telah berkurang lebih dari 50% dalam satu dekade terakhir.

Studi tahun 2025 dari Psychopedia Journals menemukan korelasi negatif antara konsumsi video pendek — reels, shorts, TikTok — dengan kemampuan atensi pada usia 18–25 tahun. Peneliti Nanyang Technological University Singapore melaporkan bahwa penggunaan media sosial intensif berkaitan dengan kesulitan mempertahankan fokus dan kelelahan emosional pada usia 13–25 tahun. Meta-analisis Dr Jared Cooney Horvath pada 2023 menemukan bahwa skor kognitif Gen Z — pemahaman bacaan, atensi berkelanjutan, numerasi — menurun dibanding generasi sebelumnya.

Minggu-minggu pertama setiap tahun ajaran baru, saya menyaksikan santri-santri baru gelisah, tangan meraba saku celana mencari ponsel yang sudah dititipkan. Mereka terbiasa menerima informasi dalam potongan 15 detik. Lalu pondok meminta mereka duduk mendengarkan selama satu jam. Di situlah pertarungan yang sesungguhnya dimulai.

Tapi inilah yang selalu membuat saya takjub: setelah dua atau tiga bulan, santri-santri yang sama itu berubah. Mereka mulai bisa duduk berjam-jam menelaah kitab. Mereka menghafal Al-Qur’an — ayat per ayat, halaman per halaman — dengan konsentrasi yang bahkan orang dewasa sulit melakukannya. Mereka berdiskusi tanpa layar, mendengarkan tanpa earbuds, dan membaca tanpa merasa perlu membuka tab lain.

Pondok tidak melakukan sihir. Pondok menyediakan lingkungan yang melatih apa yang dalam psikologi kognitif disebut sustained attention dan deep processing — kemampuan untuk tetap fokus pada satu hal dalam waktu panjang dan memproses informasi secara mendalam. Persis kemampuan yang sedang mengalami erosi masif di kalangan generasi digital.

Denmark baru mengesahkan legislasi pada Februari 2025 yang mewajibkan larangan ponsel di semua sekolah dasar dan menengah negeri mereka. Sekolah-sekolah pilot di sana melaporkan peningkatan fokus, retensi memori lebih baik, dan skor membaca lebih tinggi.

Saya tersenyum membaca berita itu. Bukan senyum sombong. Tapi senyum seorang pengasuh pondok yang tahu bahwa kami sudah melakukan ini jauh sebelum Denmark memikirkannya. Bukan karena kami antiteknologi — di pondok saya, santri tetap belajar komputer dan bahasa Inggris — tapi karena kami memahami sesuatu yang fundamental: belajar yang mendalam membutuhkan keheningan, dan keheningan membutuhkan perlindungan dari kebisingan.

Itu bukan kemewahan di tengah kota besar. Itu kebutuhan. Dan pondok, dengan tembok-temboknya yang sederhana, menyediakannya.

Ruang Kosong yang Tidak Bisa Diisi oleh Mal

Dari seluruh data yang saya baca malam itu, ada satu temuan yang paling membuat saya merenung.

Survei McKinsey Health Institute pada 2022 — melibatkan lebih dari 41.000 responden di 26 negara — menemukan bahwa Gen Z melaporkan kesehatan spiritual yang buruk pada tingkat tiga kali lipat dibanding Baby Boomers.

Kesehatan spiritual, menurut McKinsey, berarti memiliki makna dalam hidup, rasa keterkaitan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, dan tujuan hidup yang kuat. Bukan sekadar rajin ibadah. Ini tentang purpose — perasaan bahwa hidup ini berarti, bahwa ada alasan untuk bangun setiap pagi selain mengejar deadline.

Korelasinya sangat kuat: mereka yang kesehatan spiritualnya buruk, kemungkinan memiliki kesehatan mental yang baik empat kali lebih kecil dibanding yang spiritualnya netral atau baik. Spiritualitas ternyata bukan bonus — ia fondasi.

Di antara 26 negara yang disurvei McKinsey, Indonesia menempati posisi tertinggi: 88% responden menyatakan bahwa kesehatan spiritual yang positif membantu kesehatan mental mereka. Bandingkan dengan Jepang yang hanya 15%.

Saya menutup laptop sejenak dan menatap ke luar jendela. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelip. Mal besar yang menjadi tetangga pondok saya masih terang benderang meski sudah lewat tengah malam. Di dalamnya, saya tahu, ada ratusan anak muda yang sedang mencari sesuatu — entah di gerai kopi, di bioskop, di toko buku, atau di layar ponsel mereka. Tapi sesuatu yang mereka cari itu tidak dijual di sana.

Mereka mencari makna. Dan mal tidak menjual makna.

Data Kementerian Agama 2024/2025 mencatat 42.433 pesantren aktif di seluruh Indonesia. Lembaga-lembaga ini bukan sekadar tempat belajar agama. Mereka membangun apa yang saya sebut sebagai spiritual infrastructure — melalui ibadah harian, pengajian, muhasabah, dzikir, dan bimbingan kiai. Sebagai pengasuh pondok, saya menyaksikan setiap hari bagaimana infrastruktur ini bekerja: seorang santri yang tadinya tidak pernah shalat malam, perlahan mulai bangun tahajud sendiri. Bukan karena dipaksa. Tapi karena ia melihat teman-temannya melakukannya, merasakan ketenangan yang datang sesudahnya, dan mulai memahami bahwa ada dimensi hidup yang tidak bisa dijangkau oleh WiFi.

Gen Z bukan generasi yang menolak spiritualitas. Riset Springtide dan berbagai studi lain menunjukkan mereka justru generasi paling terbuka untuk membicarakan kesehatan mental dan spiritual. Masalahnya sederhana: mereka mencari makna di feed Instagram dan thread Twitter, sementara wadah yang paling utuh untuk itu — pesantren — berdiri tegak beberapa ratus meter dari tempat mereka nongkrong, tanpa pernah mereka lirik.

Di pondok saya, yang secara harfiah bersebelahan dengan pusat keramaian kota, saya melihat paradoks ini setiap hari. Anak-anak muda di luar tembok itu haus akan sesuatu yang anak-anak muda di dalam tembok ini dapatkan setiap hari tanpa menyadarinya.

Yang Pondok Punya — dan Kota Besar Kehilangan

Setelah bertahun-tahun mengasuh pondok di tengah kota, dan setelah membaca semua data itu, saya mulai bisa mengartikulasikan sesuatu yang selama ini hanya saya rasakan secara intuitif. Ada lima hal yang pondok pesantren sediakan secara alamiah — dan kelimanya persis yang sedang menghilang dari kehidupan anak-anak muda di kota besar.

Pertama, komunitas yang nyata. Bukan followers, bukan grup chat, tapi manusia-manusia yang tidur di samping kita, makan semeja, dan tahu persis seperti apa wajah kita ketika sedih. Di pondok saya, santri dari berbagai daerah dan latar belakang tinggal bersama selama bertahun-tahun. Mereka bertengkar, berbaikan, tertawa, menangis, dan tumbuh bersama. Para peneliti menyebut interaksi tatap muka yang konsisten sebagai pelindung utama terhadap kesepian dan depresi. Pondok menyediakan ini secara built-in. Sementara di luar tembok sana, anak-anak seumuran mereka membutuhkan aplikasi untuk mencari teman.

Kedua, perlindungan dari distraksi digital. Ketika orang tua calon santri datang survei, pertanyaan pertama mereka hampir selalu: “Boleh bawa HP, Pak?” Dan ketika saya bilang tidak, separuh dari mereka terlihat lega. Mereka tahu — dari pengalaman di rumah masing-masing — bahwa layar sedang merenggut anak-anak mereka. Kebijakan ini kini ditiru oleh Denmark, Prancis, Australia, dan berbagai negara bagian di AS. Tapi bagi pondok, ini bukan kebijakan baru. Ini tradisi yang ternyata visioner.

Ketiga, fondasi spiritual yang eksplisit dan sistematis. Ini yang paling sulit ditiru. Di sekolah umum, spiritualitas hadir paling-paling sebagai mata pelajaran dua jam seminggu. Di pondok, spiritualitas merupakan udara yang dihirup setiap hari — dari shalat tahajud sebelum fajar sampai muhasabah sebelum tidur. McKinsey menunjukkan bahwa kesehatan spiritual dan mental saling terkait erat. Pondok membangun keduanya secara simultan, hari demi hari. Sebagai pengasuh, saya menyaksikan transformasinya langsung: anak-anak yang datang dengan tatapan kosong, perlahan-lahan menemukan tujuan hidupnya.

Keempat, pelatihan atensi yang tidak bisa dipalsukan. Menghafal Al-Qur’an tidak bisa di-skip. Menelaah kitab kuning tidak bisa dipercepat dua kali. Belajar bahasa Arab tidak memberikan instant gratification. Semua ini melatih sustained attention dan deep processing yang sedang runtuh di kalangan generasi digital. Sebagai pengasuh pondok di kota besar, saya melihat perbedaannya dengan sangat jelas: santri-santri saya, setelah beberapa bulan, mampu berkonsentrasi dengan cara yang membuat teman-teman sebaya mereka di luar sana terheran-heran.

Kelima, pembentukan karakter lewat pembiasaan nyata. Santri bangun tahajud, merapikan tempat tidur, mencuci baju sendiri, mengatur waktu, mengelola konflik dengan teman sekamar, dan bertanggung jawab atas pilihannya — setiap hari, selama bertahun-tahun. Ini bukan simulasi. Di tengah kota besar yang serba instan dan serba mudah, pondok mengajarkan bahwa hal-hal yang berharga membutuhkan usaha, konsistensi, dan kesabaran. Anak saya pulang dengan membawa karakter itu. Bukan karena ia mendengar ceramah tentang kedisiplinan. Tapi karena ia menjalaninya.

Kejujuran dari Dalam

Tapi justru karena saya orang dalam — pengasuh pondok, bukan pengamat dari luar — saya juga harus jujur tentang tantangannya.

Data Kementerian Agama menunjukkan tren yang tidak bisa diabaikan: jumlah santri mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari empat juta pada tahun ajaran 2022/2023, angkanya terus merosot. Saya merasakan ini secara langsung. Setiap tahun ajaran baru, saya melihat meja pendaftaran yang dulunya ramai kini harus bekerja lebih keras untuk menarik perhatian orang tua.

Gen Z dan Gen Alpha merupakan generasi yang menghargai autentisitas, relevansi, dan transparansi. Mereka bisa mencium ketidaktulusan dari jarak satu kilometer. Mereka tidak akan tertarik pada lembaga yang terasa kaku tanpa alasan, yang menolak modernitas tanpa penjelasan, atau yang memperlakukan tradisi sebagai tembok, bukan jembatan.

Sebagai pengasuh, saya bergulat dengan pertanyaan ini setiap hari. Bagaimana menjaga esensi pesantren — spiritualitas, komunitas, disiplin, kedalaman ilmu — sambil tetap relevan di mata generasi yang hidup di dunia yang bergerak dengan kecepatan cahaya? Bagaimana membuktikan bahwa menghafal Al-Qur’an dan memahami artificial intelligence tidak saling bertentangan? Bahwa akhlak dan keterampilan abad ke-21 justru saling menguatkan?

Sistem safeguarding juga harus menjadi prioritas absolut. Gen Alpha datang dari keluarga Milenial yang sangat peduli pada kualitas pendidikan, kesehatan, dan keselamatan anak. Standar mereka tinggi, dan itu hal yang baik. Saya sendiri merasakannya sebagai orang tua: ketika saya menitipkan anak saya ke pondok lain, saya menuntut standar yang sama tingginya — bahkan lebih tinggi — dari yang saya terapkan di pondok sendiri.

Pondok yang bertahan dan berkembang di masa depan yaitu pondok yang berani mengakui kelemahannya, terus belajar, dan menyambut standar tinggi dengan lapang dada. Yang berkata dengan jujur: “Kami menjaga tradisi bukan karena takut pada perubahan, tapi karena kami tahu mana yang abadi dan mana yang sementara — dan kami terus belajar membedakan keduanya.”

Yang Saya Pelajari dari Anak Saya

Malam semakin larut. Laptop masih menyala. Dari jendela ruang kerja, saya bisa melihat dua pemandangan sekaligus: di sebelah kiri, lampu-lampu kota yang tidak pernah padam. Di sebelah kanan, lampu-lampu asrama pondok saya yang perlahan mulai meredup — tanda santri-santri sudah tidur setelah shalat Isya dan wirid malam.

Dua dunia. Satu tembok pemisah. Dan saya berdiri di perbatasan itu setiap hari.

Selama bertahun-tahun, saya mengasuh pondok dengan keyakinan bahwa ini jalan yang benar, bahwa pendidikan pesantren punya nilai yang tidak tergantikan. Tapi keyakinan itu lebih sering berbentuk iman daripada argumen. Saya percaya, tapi saya tidak selalu bisa menjelaskan.

Malam ini, setelah mendengar jawaban anak saya dan membaca semua data itu, keyakinan saya mendapat konfirmasi yang tidak saya sangka: dari mulut seorang anak delapan belas tahun, dan dari jurnal-jurnal ilmiah terbaik di dunia, dengan pesan yang sama persis.

Dunia modern sedang memproduksi generasi yang kesepian di tengah keramaian digital, yang otaknya terlatih meletus-letus tapi tak mampu merenung, yang punya akses ke seluruh informasi dunia tapi kehilangan makna hidupnya. Dan jawaban untuk krisis paling modern itu ternyata sudah tersedia di lembaga paling klasik.

Pondok pesantren bukan peninggalan. Ia jawaban yang menunggu untuk didengar.

Tapi pondok juga bukan jawaban yang boleh berpuas diri. Ia harus terus berbenah, terus belajar, terus membuktikan bahwa tradisi dan relevansi bisa hidup dalam satu nafas.

Saya menutup laptop dan berjalan ke kamar anak saya. Ia sudah tidur pulas. Wajahnya tenang — wajah seseorang yang, di usianya yang masih sangat muda, sudah punya sesuatu yang banyak orang dewasa belum temukan: jangkar. Sebuah pusat gravitasi internal yang membuatnya tidak mudah terombang-ambing oleh tren, tekanan sosial, atau kekosongan yang sering datang tanpa diundang.

Besok pagi, saya akan kembali ke pondok. Kembali mengurus ratusan santri, kembali bergulat dengan tantangan kurikulum dan keuangan dan fasilitas. Tapi saya akan melakukannya dengan pemahaman yang lebih utuh.

Karena sekarang saya tahu: Anak-anak muda tidak butuh lebih banyak layar. Mereka butuh lebih banyak wajah. Tidak butuh lebih banyak konten. Mereka butuh lebih banyak makna. Tidak butuh lebih banyak koneksi virtual. Mereka butuh lebih banyak komunitas nyata.

Dan seorang anak yang baru pulang dari enam tahun mondok — tanpa pernah membaca jurnal McKinsey atau studi UCLA — sudah tahu itu dari pengalamannya sendiri.

Saya, ayahnya yang pengasuh pondok, baru benar-benar mengerti malam itu.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi

McCrindle Research — Gen Z & Gen Alpha demographics and generational definitions

McKinsey Health Institute Global Gen Z Survey, 2022 (41.000+ responden, 26 negara) — Spiritual health exploration

Cigna Loneliness Study, 2018 — Cross-generational loneliness comparison

Springtide Research Institute — Belonging: Reconnecting America’s Loneliest Generation, 2020

Hopelab & Data for Progress, 2025 — Youth mental health and loneliness survey

American Psychological Association, 2024 — Gen Z loneliness rates

Dr Jean Twenge — Screen time, smartphone adoption, and teen loneliness correlation

Dr Gloria Mark — Attention switching research (47-second average)

Dr Jared Cooney Horvath, 2023 — Meta-analysis on Gen Z cognitive scores

Psychopedia Journals, 2025 — Short-form video impact on attention span

Nanyang Technological University, 2025 — Social media use and sustained focus among adolescents

Denmark phone ban legislation, February 2025

Kementerian Agama RI — Data 42.433 pesantren aktif, 2024/2025

GoodStats/Kemenag — Tren jumlah santri 2022–2025

Tags: DigitalPesantrenSmartphone
Share254Tweet159Send
Previous Post

Din Syamsuddin: Kematian Ali Khamenei Jadi Amunisi Baru bagi Iran Hancurkan Israel dan AS

Next Post

Kecam Israel yang Sudah 3 Hari Tutup Masjid Al-Aqsha, HNW: Mestinya OKI Segera Ambil Sikap Nyata Selamatkan Masjid Al-Aqsha dan Palestina

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Al-‘Afwu dan Al-Maghfirah: Hierarki Ampunan dalam Perspektif Spiritual Islam di Akhir Ramadhan

Kiat-Kiat Agar Anak Betah di Pesantren: Sebuah Rangkuman Pidato Masyayikh Gontor

3 May 2026
kh fauzi tidjani djauhari

Pesantren Al-Amien Prenduan akan Gelar Idul Khotmi Nasional Tarekat Tijaniyah Ke-234

13 July 2026
Akhlak dan Adab sebagai Fondasi Peradaban: Perspektif Imam Al-Ghazali, Ibn Miskawaih, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dan KH Imam Zarkasyi untuk Menyongsong Abad Kedua Gontor

Akhlak dan Adab sebagai Fondasi Peradaban: Perspektif Imam Al-Ghazali, Ibn Miskawaih, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dan KH Imam Zarkasyi untuk Menyongsong Abad Kedua Gontor

12 July 2026
Raker SDIT Insantama Leuwiliang 2026/2027 Fokus Perkuat Kolaborasi dan Inovasi Pembelajaran Berbasis Teknologi

Raker SDIT Insantama Leuwiliang 2026/2027 Fokus Perkuat Kolaborasi dan Inovasi Pembelajaran Berbasis Teknologi

12 July 2026
Tetap Jujur Meski Berhadapan dengan Kepentingan

Tetap Jujur Meski Berhadapan dengan Kepentingan

13 July 2026
Bentengi Generasi Sejak Dini: Siswa Kelas VI SDIT Insantama Leuwiliang Ikuti Penyuluhan Bahaya Narkoba

Bentengi Generasi Sejak Dini: Siswa Kelas VI SDIT Insantama Leuwiliang Ikuti Penyuluhan Bahaya Narkoba

0
Waka BAZNAS Apresiasi Kepedulian Pemkab Pasaman Barat terhadap Zakat

Waka BAZNAS Apresiasi Kepedulian Pemkab Pasaman Barat terhadap Zakat

0
FORBIS Isi Pembekalan Mental Wirausaha di Muaskar Wisuda Ke-46 UNIDA Gontor

FORBIS Isi Pembekalan Mental Wirausaha di Muaskar Wisuda Ke-46 UNIDA Gontor

0
200 Lebih Alumni Angkatan 2005 Ramaikan Reuni Akbar Gontor Putri

200 Lebih Alumni Angkatan 2005 Ramaikan Reuni Akbar Gontor Putri

0
Sarasehan Guru Besar Alumni UNIDA Gontor Bukti Penguatan Misi Menuju World Class University

Sarasehan Guru Besar Alumni UNIDA Gontor Bukti Penguatan Misi Menuju World Class University

0
Waka BAZNAS Apresiasi Kepedulian Pemkab Pasaman Barat terhadap Zakat

Waka BAZNAS Apresiasi Kepedulian Pemkab Pasaman Barat terhadap Zakat

17 July 2026
Bentengi Generasi Sejak Dini: Siswa Kelas VI SDIT Insantama Leuwiliang Ikuti Penyuluhan Bahaya Narkoba

Bentengi Generasi Sejak Dini: Siswa Kelas VI SDIT Insantama Leuwiliang Ikuti Penyuluhan Bahaya Narkoba

17 July 2026
200 Lebih Alumni Angkatan 2005 Ramaikan Reuni Akbar Gontor Putri

200 Lebih Alumni Angakatan 2005 Ramaikan Reuni Akbar Gontor Putri

16 July 2026
FORBIS Isi Pembekalan Mental Wirausaha di Muaskar Wisuda Ke-46 UNIDA Gontor

FORBIS Isi Pembekalan Mental Wirausaha di Muaskar Wisuda Ke-46 UNIDA Gontor

16 July 2026
Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, PC IKPM Gontor Lampung Gelar Silaturahmi Perdana Bersama Alumni

Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, PC IKPM Gontor Lampung Gelar Silaturahmi Perdana Bersama Alumni

16 July 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Stok terbatas!
Sudah punya Edisi Agustus?Edisi spesial ini mengupas perjalanan UNIDA Gontor Mendunia dan hanya hadir dalam rangka 100 Tahun Gontor.Banyak yang sudah memesan. Jangan sampai Anda tertinggal.Pesan sekarang:
https://bit.ly/pesan-majalah#100TahunGontor #unidagontor #majalahgontor #gontornews
  • 100 Tahun Gontor bukan sekadar peringatan, tetapi sejarah yang layak disimpan.Miliki Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor yang terbit selama Juli–September 2026.📚 Koleksi terbatas.
⏳ Jangan menunggu sampai kehabisan.📲 Pesan sekarang:
https://bit.ly/pesan-majalah#100TahunGontor #MajalahGontor #Gontor #PondokModern #DarussalamGontor #MediaPerekatUmat #GontorMendunia #KoleksiBersejarah #alumnigontor #gontornews #majalahgontor
  • Jangan sampai koleksi Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor Anda kehabisan.Pre-Order telah dibuka!💰 Harga: Hanya Rp 15.000 / eksemplarMengingat kuota cetak yang terbatas, amankan eksemplar Anda sekarang juga sebelum sistem tertutup otomatis.Amankan Pemesanan Anda di sini:
👉 https://bit.ly/pesan-majalah
  • Repost from @ikpmmadiun
Bagi keluarga besar Gontor, setiap nasihat Pimpinan adalah bekal sepanjang perjalanan hidup. 🤍Kali ini, mari kita luangkan waktu sejenak untuk kembali mendengarkan petuah dari K.H.Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor)Insya Allah apa yang kita dengar bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga menguatkan niat untuk terus berkhidmat kepada umat.🤲 Jangan berhenti di kita. Bagikan agar semakin banyak yang memperoleh manfaat.💬 Antum Alumni Gontor angkatan berapa? Share di kolom komentar.
  • Jangan sampai koleksi Majalah Gontor Edisi Khusus 100 Tahun Gontor Anda kehabisan.Menuju Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Majalah Majalah Gontor menerbitkan Edisi Spesial 100 Tahun Gontor.Mumpung BELUM terlambat, Pre-Order Edisi Agustus & September resmi dibuka!💰 Harga: Hanya Rp 15.000 / eks eksemplar
⏳ Batas Waktu PO Edisi Agustus: 10 Juli 2026, Pukul 11:59 WIB (Tinggal menghitung hari!)Mengingat kuota cetak yang sangat ketat, amankan eksemplar Anda sekarang juga sebelum sistem tertutup otomatis.Amankan Slot Pemesanan Anda di Sini:
👉 https://bit.ly/pesan-majalah
  • Repost from @unida.gontor and @miladunidagontor
Bismillahirrahmanirrahim
👋Sampai jumpa di Kampus UNIDA Gontor!
Tabligh Akbar bersama Ustadz Dr. (H.C.) Adi Hidayat, Lc., M.A.Dalam rangka memperingati Milad UNIDA Gontor ke-63, Hadirilah Tabligh Akbar Universitas Darussalam Gontor:✨ Tema: Pentingnya Pesantren
👤 Bersama: Al Ustadz Dr. (H.C.) Adi Hidayat, Lc., M.A.
🗓️ Hari/Tanggal: Kamis, 9 Juli 2026
🕗 Waktu: 20:00 WIB – Selesai
🏛️ Tempat: Universitas Darussalam Gontor (Jl. Raya Siman, Ponorogo, Jawa Timur)Link Pendaftaran:
bit.ly/tablighakbar_unidagontorAcara ini terbuka untuk umum dan menyediakan doorprize menarik bagi jemaah yang beruntung.Mari jadikan momentum ini sebagai sarana memperkuat ukhuwah serta meningkatkan kapasitas keilmuan kita.#MiladUNIDAGontor63 #UstadzAdiHidayat #PesantrenPerekatUmat #TablighAkbarPonorogo #unidagontor
#majalahgontor #gontornews
  • Repost from @irengsepur Dirgahayu 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.Merupakan sebuah kebanggaan dan kehormatan sebagai salah satu alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dapat turut menyemarakkan Milad Satu Abad ini. Meskipun belum dapat hadir secara langsung, Alhamdulillah di sela-sela kegiatan latihan saya diberikan izin oleh kesatuan untuk mengibarkan bendera Pondok Modern Darussalam Gontor di ketinggian  500 ft di atas langit Majalengka. Bagi saya, ini bukan sekadar sebuah penerjunan, tetapi bentuk penghormatan, rasa syukur, dan kecintaan kepada almamater yang telah membentuk karakter dan perjalanan hidup saya.Salam takzim kepada seluruh Bapak Kiai dan para Asatidz atas segala ilmu, doa, dan keteladanan yang telah diberikan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan, dan membalas setiap pengabdian dengan pahala yang berlipat.Dirgahayu 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.Semoga Gontor senantiasa menjadi mercusuar peradaban Islam, terus melahirkan generasi pemimpin yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan memberkahi Gontor sepanjang masa. Aamiin ya Rabbal
  • 🎓BEASISWA JALUR RAPOR✨Kabar gembira bagi alumni Pondok Modern Darussalam
Gontor & Pondok Pesantren Alumni Gontor!Dapatkan beasiswa Free Uang gedung dan Potongn UKT
50% disetiap semester sampai lulus kuliah di Universitas
Ary Ginanjar (UAG) dan wujudkan impianmu menjadi
profesional unggul di berbagai bidang!✍️Syarat Pendaftaran:
✅Lulusan Gontor dan rekanan Gontor tahun
2022-2025
✅Memiliki Hafalan Qur
  • Pre-Order Majalah Gontor Edisi Bulan Juli 2026.1 ABAD GONTOR DALAM SATU GENGGAMAN!
Edisi Paling Bersejarah yang Tak Akan Dicetak Ulang.Menyambut 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, miliki Majalah Gontor Edisi Spesial bulan Juli - September 2026.KUOTA CETAK SANGAT TERBATAS!
Sistem otomatis ditutup jika stok ludes. Jangan sampai Anda menyesal karena melewatkan edisi bersejarah ini!
Siapa cepat, dia dapat.AMANKAN STOK ANDA SEKARANG!
Kunjungi: https://bit.ly/keranjang-buku
Pengiriman Majalah di tanggal 10 juli 2026.

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result