Jenewa, Gontornews – Para donatur internasional telah menjanjikan bantuan sebesar $ 2 miliar untuk membantu Yaman di tengah konflik yang melanda. Hal tersebut disampaikan di acara PBB, di kota Jenewa Swiss, Selasa (3/4).
Bantuan keuangan tersebut akan diberikan untuk memberikan perlindungan dan menyelamatkan jutaan nyawa rakyat Yaman yang berada dalam kondisi kelaparan yang kritis.
Sebanyak empat puluh negara dan organisasi telah berkomitmen untuk menyumbangkan $ 2 miliar dengan bekerja sama PBB, Swedia dan Swiss.
Sebelumnya, PBB dan mitra-mitranya telah mengajukan permohonan dana sebesar $ 2.96 miliar untuk memobilisasi sumber daya yang sangat dibutuhkan untuk jutaan orang yang terkena dampak di seluruh negara Semenanjung Arab.
Konferensi serupa juga pernah terlaksana tahun lalu dan menghasilkan dana sebesar $ 1,1 miliar dalam bentuk bantuan.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang juga hadir dalam konferensi yang berlangsung sehari, memuji acara penggalangan dana tersebut. Tetapi ia mengatakan harus lebih banyak lagi pihak yang terlibat dalam memecahkan masalah di Yaman.
“Konferensi ini menjanjikan keberhasilan solidaritas internasional yang luar biasa bagi rakyat Yaman,” kata Guterres seperti dikutip Aljazeera.
Menurutnya, bantuan kemanusiaan tersebut sangat penting, akan tetapi hal itu tidak cukup. Pihaknya, membutuhkan akses tak terbatas di Yaman untuk warga sipil yang memerlukan bantuan.
Selain itu, semua pihak dalam konflik juga harus menghormati hukum Hak Asasi Manusia Internasional, dan untuk melindungi warga sipil.
“Di atas segalanya, kita juga membutuhkan proses politik yang serius untuk mendapatkan solusi dalam masalah itu,” lanjutnya.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Swedia, Isabella Lovin mengatakan, pendanaan saja tidak cukup. Pihaknya masih terlendala soal kurangnya akses kemanusiaan bagi organisasi yang bekerja untuk memberikan bantuan mereka di Yaman.
“Bantuan kemanusiaan saja tidak bisa menjadi jawaban yang dibutuhkan orang-orang Yaman yang terancam oleh konflik bersenjata,” jelasnya.
Menteri Luar Negeri Yaman, Abdel-Malek al-Mekhlafi, yang juga hadir di konferensi itu, menyerukan kembali semua pihak yang berkonflik ke meja perundingan untuk mengakhiri perang sipil yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun dan menghancurkan negara itu.
“Kami perlu menemukan solusi ideal dalam meja perundingan, untuk mengakhiri perang, untuk kembali memerintah yang didukung oleh rakyat Yaman,” katanya.
Sejak 2015, Arab Saudi telah memimpin koalisi militer di Yaman untuk melawan pemberontak Houthi. Konflik yang terus berlangsung hingga kini telah menyebabkan kekurangan pangan yang sangat mengkhawatirkan.
Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencatat telah terjadi wabah kolera yang sangat buruk di Yaman. PBB juga menyebut Yaman sebagai “krisis kemanusiaan terburuk di dunia”, sebanyak 22,2 juta orang membutuhkan bantuan, sementara 8,4 juta berada di ambang kelaparan.
Pada November 2017 lalu, koalisi pimpinan Saudi telah meredakan blokade selama tiga minggu di wilayah Yaman yang dikuasai pemberontak, setelah adanya kecaman internasional. Namun, kelompok-kelompok HAM mengatakan bahaya kelaparan massal akan terus terjadi di Yaman. (Devi Lusianawati)




















