Bogor, Gontornews – Ria Kusumaningrum, S.Pt, M.Si, dosen Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor membagikan pengalamannya memperoleh beasiswa dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Kementerian Keuangan secara virtual, Ahad (20/9) siang.
Online meeting bertajuk “Mempersiapkan Pendaftaran Beasiswa di Masa Pandemi” ini dihadiri lebih dari 50 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tampak antusias mengikuti acara hingga usai. Antusiasme peserta terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan melalui room chat aplikasi Zoom.
Ria, peraih beasiswa program BUDI DN (Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia Dalam Negeri), itu mengatakan, LPDP menawarkan tiga jalur beasiswa: Beasiswa Umum, Beasiswa Afirmasi dan Beasiswa Targeted Group.
Beasiswa Umum meliputi: Beasiswa Reguler, Beasiswa Dokter Spesialis, Beasiswa Perguruan Tinggi Peringkat Utama Dunia, Beasiswa Disertasi, dan Beasiswa Kerjasama Pendanaan (Co-Funding).
Beasiswa Afirmasi meliputi: Beasiswa Daerah Afirmasi, Beasiswa Alumni Bidikmisi, Beasiswa Prasejahtera Berprestasi, Beasiswa Santri, Beasiswa Prestasi Olahraga Internasional, Beasiswa Prestasi Seni Internasional, Beasiswa Penyandang Disabilitas, dan Beasiswa Indonesia Timur.
Sedangkan Beasiswa Targeted Group meliputi: Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI), Beasiswa PNS/TNI/POLRI, dan Beasiswa Olimpiade Internasional.
Ria menyebutkan, BUDI adalah program beasiswa yang ditujukan kepada dosen tetap perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun swasta di lingkungan Kementerian Ristek dan Dikti untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas dosen sesuai kebutuhan strategis Perguruan Tinggi di Indonesia. “Program BUDI hanya diberikan untuk jenjang pendidikan doktoral satu gelar (single degree),” ujar mahasiswa program doktor (S3) Ilmu Ekonomi Pertanian IPB itu.
Lebih lanjut Ria menjelaskan, proses seleksi beasiswa LPDP meliputi tiga tahap, yaitu: Seleksi Administrasi, Seleksi Berbasis Komputer, dan Wawancara.
Untuk program BUDI, persyaratan administrasi yang mesti dilengkapi yaitu: 1. Surat Keterangan sehat yang masa berlakunya paling lama enam bulan terhitung dari tanggal diterbitkannya sampai tanggal penutupan pendaftaran setiap periode; 2. Proposal studi; 3. Proposal Penelitian; 4. LoA Unconditional dari Perguruan Tinggi Tujuan; 5. Surat izin mendaftar beasiswa dari pemimpin Perguruan Tinggi Negeri bagi dosen PTN, atau koordinator Kopertis Wilayah bagi dosen Perguruan Tinggi Swasta.
Selain itu juga harus dipersiapkan: 6. Surat izin untuk melanjutkan studi doktoral dari pemimpin Perguruan Tinggi Negeri bagi dosen PTN, atau koordinator Kopertis Wilayah bagi dosen PTS; 7. Rekomendasi tertulis dari pimpinan Perguruan Tinggi pendaftar yang menjelaskan kebermanfaatan studi untuk institusi maupun masyarakat luas; 8. Surat Pernyataan yang dapat diunduh pada aplikasi pendaftaran di bagian unggah dokumen; dan 9. Transkip Nilai S2, walaupun tidak ada syarat minimal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
Ria menyebutkan, pendaftar yang lolos seleksi administrasi akan dipanggil untuk mengikuti Seleksi Berbasis Komputer (SBK). Materi SBK meliputi: 1. Tes Potensi Akademik atau Tes Intelijensi Umum; 2. Soft Competency atau Tes Karakter Kepribadian; dan 3. On the spot essay writting. Selanjutnya mereka yang dinyatakan lulus SBK akan dipanggil untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya: Wawancara. Materi wawancara meliputi proposal studi dan disertasi, serta nasionalisme dan bela negara.
Pada kesempatan itu Ria memberikan tips untuk lolos seleksi administrasi beasiswa LPDP. Salah satunya memperoleh rekomendasi dari orang yang banyak berjasa kepada negara. “Untuk program S3 diusahakan minimal doktor yang memberikan rekomendasi, tapi tidak menutup kemungkinan dari tokoh masyarakat yang belum doktor. Yang terpenting, pemberi rekomendasi mengenal baik kita,” ujarnya.
Pemberi rekomendasi cukup satu orang. “Waktu itu saya memperoleh rekomendasi dari mantan Staf Khusus Presiden SBY,” aku perempuan kelahiran Jakarta, 2 Oktober 1981, itu.
Selain Ria, pertemuan virtual itu juga menghadirkan Debby Agustin, S.Si. Ia ikut membagikan pengalaman memperoleh beasiswa jalur Afirmasi LPDP Magister Luar Negeri.
Ia menyebutkan, untuk tujuan luar negeri, pendaftar wajib memiliki sertifikat resmi kemampuan bahasa Inggris yang masih berlaku dan diterbitkan oleh ETS (www.ets.org) atau IELTS (www.ielts.org) atau TOAFL dengan ketentuan sebagai berikut: a. Perguruan Tinggi Tujuan berbahasa Inggris skor hasil tes TOEFL iBT® 80, IELTS™ 6,5 (band score minimal 6,0) atau overall IELTS™ 7,0, TOEIC® 800, atau TOAFL 550; b. Perguruan Tinggi Tujuan nonberbahasa Inggris TOEFL iBT® 61, IELTS™ 6,0 (band score minimal 6,0), TOEIC® 630, atau TOAFL 500.
“Sertifikat TOAFL diperuntukkan bagi pendaftar dengan tujuan program studi dan/atau perguruan tinggi Islam,” ujar sarjana lulusan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu.
Anda berminat? Segera daftar melalui akun LPDP: beasiswalpdp.kemenkeu.go.id. []




















