Ponorogo, Gontornews — Dengan lokasi di ketinggian 800 m di atas permukaan laut (dpl), Desa Mrayan, Ngrayun, cocok untuk pengembangan ternak kambing. Namun, masalah klasik minimnya pakan pada musim kemarau masih saja terjadi. Fenomena itu menjadi perhatian dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.
Melalui hibah Kemendikbudristek skema desa binaan, mereka memberikan pendampingan cara membuat pakan silase dan fermentasi dengan bahan baku rumput odot dan semak lokal.
‘’Selama ini pakannya mengandalkan rumput liar yang ada di hutan,’’ kata Parwi, salah seorang tim dosen UNIDA sembari menyebut timnya juga beranggotakan Umi Isnatin, Faisal Reza Pradhana, dan Rahmad Kurniawan.
Pakan silase, lanjut dia, berupa campuran rumput odot, gama umami, EM4, dedak, dan molase. Setelah tercampur dimasukkan ke plastik atau drum. Kemudian ditekan hingga tidak terdapat udara di dalamnya.
‘’Disebut kondisi anaerob untuk memaksimalkan proses fermentasi yang berlangsung dan menghindari timbulnya jamur pada pakan,’’ terangnya dilansir Jawa Pos.
Pembuatan pakan fermentasi sama seperti silase. Bedanya, dalam larutan EM4 ditambahi molase dengan perbandingan satu tutup botol EM4, satu tutup botol molase, dan satu liter air. ‘’Ditutup rapat seperti proses pembuatan silase,’’ ujarnya.
Dia menyebutkan, proses silase bertujuan memperpanjang masa simpan pakan hijauan serta menjaga nutrisi. Sedangkan fermentasi bertujuan untuk meningkatkan kandungan nutrisi pada makanan.
‘’Pada kegiatan ini kami menyerahkan bahan tanam rumput odot, gama umami, drum plastik, EM4, dedak, molase, dan terpal,’’ pungkasnya. [Fathur]




















