Jakarta, Gontornews– Dewasa ini ekonomi Islam semakin mendapat perhatian dunia. Bukan hanya di negara-negara Muslim, negara-negara Barat juga memiliki perhatian besar terhadap ekonomi dan keuangan Islam.
Founder Iqtishad Consulting, Agustianto Mingka menjelaskan, perkembangan ekonomi Islam cukup menggembirakan baik dalam hal kajian akademis di perguruan tinggi maupun operasional di lembaga keuangan.
Di bidang akademis, kata Agustianto, perhatian ilmuwan terhadap ekonomi Islam mulai nampak pada tahun 1960-an. Antara lain dikembangkan oleh Dr. Kursyid Ahmad, Dr.M.N.Shiddiqy dan Dr.M.A.Mannan, Dr.M.Umer Chapra, dll.
Buah dari kajian mereka itulah yang menghantar pendirian IDB (Islamic Development Bank) pada tahun 1975 di Jedah dan diselenggarakannya Konferensi Ekonomi Islam Internasional Pertama tahun 1976 di Jeddah.
“Konferensi Pertama ini dijadikan sebagai momentum awal kelahiran ilmu ekonomi Islam modern,”ungkap Agustianto seperti dikutip Gontornews dari website Iqtishad consulting.
Sejak tahun 1970-an tersebut kajian ilmiah dan riset tentang ekonomi Islam yang bersifat empiris terus dilakukan dan disosialisasikan ke banyak negara, hingga gerakan akademis ekonomi Islam makin berkembang.
Sementara tahun 1990 an adalah masa-masa dimana studi ekonomi Islam mulai dikembangkan di berbagai universitas, baik di negeri-negeri Muslim maupun negeri-negeri non-Muslim.
Sebagai negara mayoritas Muslim, Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara yang sama-sama memiliki institusi pendidikan yang menawarkan studi ekonomi Islam.
Di Indonesia sendiri kajian akademis ekonomi Islam di perguruan tinggi mulai ramai tahun 2000 an. “Sedangkan kajian akademis ekonomi Islam di perguruan tinggi Malaysia sudah dimulai sejak 1983,” imbuh Agustianto.
Selain di Indonesia, Malaysia dan negara-negara Muslim lainnya, negara-negara Barat juga tertarik dengan ekonomi Islam. “Percaya atau tidak ekonomi Islam sudah jadi paket kajian mereka yang ada di Eropa,” ungkap Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr M Arief Mufraini.
Mata kuliah Islamic Banking and Finance, misalnya, sudah jadi bahasan menarik di banyak kampus di Eropa. “Jangankan di kampus besar, di kampus kecil saja ada. Yang saya tahu selama bekerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri. Di Jerman ada. Perancis ada. Di Inggris juga ada,”jelasnya.
Di Inggris, kata Arief, di University of South Wales ada, Bangor University ada, Durham University jelas pasti ada. “Anak-anak Indonesia juga banyak kuliah di sana dan studinya Islamic Banking,” ungkap mantan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu kepada Gontornews.
Menurut Arief, ada beberapa alasan mengapa orang Eropa cukup terbuka dengan keuangan syariah ini. Pertama, karena mereka berpikirnya rasional. Selama bisa menghasilkan profit mereka akan menerimanya.
Dengan demikian satu-satunya cara berpikir tentang keislaman yang bisa berpenetrasi dan elegan ke negara-negara Barat adalah kajian-kajian tentang ekonomi. Karena kajian ekonomi Islam hadir tidak dalam asumsi radikalisme.
“Jadi satu-satunya keindahan, logika berpikir syariah ada dalam frame pergerakan Islamic Finance and Banking dan mekanisme (akad) yang disajikan di dalam Islamic Banking and Finance hanya dijadikan mereka sebagai cara lain untuk mendapatkan profit, “ungkapnya.
Kedua, ada resource funding yang membuat mereka tertarik secara serius mengembangkan kajian ekonomi Islam.
“Selain mereka menyadari bahwa ada yang bersifat logis tadi, juga ada market share-nya. Ada resource funding yang besar, misalnya dari Timur Tengah yang kemudian membuat mereka berpikir bahwa itu alasan kenapa mereka harus tahu sistem ini,”jelasnya.
Meski Indonesia dan Inggris sama-sama memiliki institusi pendidikan yang menyelenggarakan studi ekonomi Islam, menurut mahasiswa S3 di Kingston University London, Royyan Ramdhani Djayusman, sistem pendidikan di kedua negara tersebut memiliki sejumlah perbedaan.
“Kalau kita belajar Islamic Economics di Barat mungkin tidak akan dapat banyak, tapi kalau belajar penelitian dan metodologi akan dapat banyak, yang mana kita masih kurang di metodologi, “ungkap mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 ilmu ekonomi dengan fokus penelitian tentang ekonomi Islam di Kingston University London itu kepada Gontornews.
Menurutnya, meski ekonomi Islam di Inggris terbilang baru, tapi banyak universitas di sana yang tertarik dengan penelitian tentang ekonomi Islam. “Banyak universitas yang mulai tertarik dengan penelitian tentang ekonomi Islam, baik Islamic Finance and Banking, maupun social finance,” jelas Royyan yang juga seorang dosen di Universitas Darussalam Gontor.
Seperti di negara-negara Barat lainnya, Spanyol juga melakukan hal yang sama. Dalam keterangan tertulisnya kepada Gontornews, Rektor Institut Tazkia Dr Murniati Mukhlisin mengatakan, salah satu kampus di Spanyol yang mensupport dosen dan mahasiswanya melakukan penelitian tentang keuangan syariah dan industri halal adalah Universitat Jaume I, Castellon, Spanyol.
Bagi mereka nilai-nilai ekonomi Islam cukup selaras dengan nilai etika khususnya dalam hal investasi dan keuangan. “Rektor Jaume I, Eva Alcon Soler mengatakan kampusnya sedang melebarkan sayap ke dunia internasional dan sangat mendukung dosen dan mahasiswa di kampusnya untuk melakukan riset mengenai keuangan atau industri beretika (keuangan syariah dan industri halal),โ paparnya.
Salah satu dosen bahkan guru besar Universitat Jaume I yang melakukan anjuran rektor Universitat Jaume I itu adalah Emili Tortosa-Ausina. “Walaupun bukan Muslim dia menekuni penelitian tentang keuangan korporasi syariah sejak tahun 2012. Baginya penelitian di bidang syariah sangat bermanfaat dan dibutuhkan,” ungkapnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien]





















