Jayapura, Gontornews — Tahapan penjaringan Calon Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua masa bakti 2026–2030 terus berlangsung. Pada Kamis (9/7/2026) lalu, Dr. Faisal, S.Ag., M.H.I. resmi menyerahkan berkas pendaftaran kepada Panitia Seleksi Calon Rektor. Momen ini menjadi penanda hadirnya gagasan baru tentang arah pengembangan IAIN Fattahul Muluk Papua ke depan.
Dr Faisal yang saat ini menjabat sebagai Direktur Program Pascasarjana IAIN Fattahul Muluk Papua datang dengan membawa visi besar, yakni menjadikan kampus sebagai “Gerbang Keilmuan dan Peradaban Islam Indonesia di Kawasan Indo-Pasifik yang Unggul, Inovatif, Inklusif, dan Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Papua.”
Di balik proses pendaftaran tersebut, visi dan misi yang dibawa Dr Faisal menjadi sorotan. Sebab, arah kepemimpinan yang ditawarkannya tidak hanya menekankan penguatan akademik, tetapi juga memperlihatkan upaya menjadikan IAIN Fattahul Muluk Papua sebagai kampus Islam yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Papua dan mampu tampil di tingkat global.
Enam Misi
1. Fokus pada Pendidikan Tinggi Islam yang Adaptif
Salah satu misi yang dibawa Dr Faisal menyelenggarakan pendidikan tinggi Islam yang unggul, adaptif, dan inovatif. Tujuannya untuk menghasilkan lulusan yang berintegritas, moderat, profesional, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Misi ini penting karena tantangan dunia pendidikan tinggi semakin kompleks. Kampus tidak hanya dituntut meluluskan sarjana, tetapi juga menyiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan kebutuhan dunia kerja.
“Pendidikan di IAIN Fattahul Muluk Papua ke depan diharapkan tidak berhenti pada penguatan ilmu keislaman semata, tetapi juga membentuk karakter, kemampuan berpikir kritis, dan daya saing mahasiswa,” ungkap lelaki yang juga Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua ini.
2. Penguatan Riset Berbasis Ekoteologi dan Pembangunan Papua
Hal lain yang cukup menonjol dalam visi Dr Faisal yaitu komitmen mengembangkan penelitian dan inovasi berbasis ekoteologi. Penelitian tersebut diarahkan untuk berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat Papua serta kawasan Indo-Pasifik.
“Bagi Papua yang memiliki kekayaan alam besar sekaligus tantangan dalam pengelolaan sumber daya, pendekatan ini sangat relevan. Kampus didorong untuk menghadirkan riset yang tidak hanya teoritis, tetapi juga memberi jawaban atas persoalan riil di Masyarakat Papua,” jelas alumni S2, IAIN Alauddin Makassar jurusan Hukum Islam (Pemikiran Hukum Islam) tahun 2005 ini.
Jika diterapkan, misi ini dapat menjadikan IAIN Fattahul Muluk Papua sebagai salah satu pusat kajian Islam yang memberi perhatian pada isu lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan kesejahteraan masyarakat berbasis kearifan lokal.
3. Menjawab Kebutuhan Masyarakat Melalui Ilmu dan Teknologi
Dr Faisal juga menekankan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, memperkuat kemaslahatan umat, dan mendukung pembangunan bangsa.
Poin ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh terpisah dari realitas sosial. Kampus harus hadir di tengah masyarakat, baik melalui riset, pengabdian, maupun program-program pemberdayaan yang relevan.
Bagi masyarakat Papua, misi ini penting karena masyarakat membutuhkan peran kampus dalam menjawab berbagai tantangan, mulai dari penguatan sumber daya manusia, pendidikan, hingga pembangunan sosial.
“Kampus tidak cukup hanya aktif di ruang kelas dan seminar, tetapi juga perlu memastikan bahwa ilmu yang dikembangkan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” papar alumni S1, IAIN Alauddin Makassar jurusan Ushuluddin, Aqidah Filsafat tahun 2001 ini.
4. Perkuat Moderasi Beragama dan Dialog Lintas Budaya
Sebagai kampus Islam di wilayah yang kaya keberagaman, IAIN Fattahul Muluk Papua juga diproyeksikan menjadi pusat moderasi beragama, dialog lintas budaya, dan rekonsiliasi sosial. Misi ini menjadi salah satu poin penting dalam gagasan Dr Faisal. Ditambah, ia punya pengalaman selama 15 tahun sebagai pegiat lintas agama, lintas etnis di forum kerukunan umat beragama (FKUB) Kabupaten Jayapura Papua.
Papua dikenal sebagai wilayah multikultural dengan latar belakang agama, suku, dan budaya yang beragam. Dalam situasi seperti ini, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk merawat harmoni sosial. Kampus dapat menjadi ruang bertemunya gagasan, dialog, dan pendidikan yang menanamkan sikap saling menghormati.
Melalui misi ini, lelaki yang ambil doktor S3 di UMY Yogyakarta tahun 2019 ini ingin menjadikan IAIN Fattahul Muluk Papua bukan hanya sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga sebagai rumah bersama yang memperkuat nilai toleransi, kebangsaan, dan kehidupan sosial yang damai.
5. Tata Kelola Bersih dan Berbasis Digital
Selain berbicara tentang visi akademik, Dr Faisal juga menaruh perhatian pada tata kelola perguruan tinggi. Ia menekankan pentingnya pengelolaan kampus yang profesional, transparan, akuntabel, dan berbasis digital.
Di era pendidikan modern, tata kelola yang baik menjadi fondasi penting bagi kemajuan kampus. Layanan akademik, administrasi, pengelolaan data, hingga sistem penjaminan mutu perlu ditopang oleh manajemen yang rapi dan transparan. “Digitalisasi juga menjadi kebutuhan agar kampus mampu bergerak lebih cepat, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan sivitas akademika,” ungkap alumni Pondok Modern Darussalam Gontor itu.
6. Buka Jejaring Nasional dan Internasional
Tak kalah penting, Dr Faisal juga membawa misi memperluas jejaring nasional dan internasional. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat posisi IAIN Fattahul Muluk Papua sebagai pusat keilmuan Islam Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.
Jejaring yang luas akan membuka banyak peluang, mulai dari kolaborasi riset, penguatan kapasitas dosen, pertukaran mahasiswa, hingga pengembangan kelembagaan. Dengan letak Papua yang strategis di kawasan timur Indonesia, peluang untuk membangun koneksi ke kawasan Pasifik menjadi salah satu kekuatan yang bisa dimanfaatkan kampus.
“Saya tidak ingin IAIN Fattahul Muluk Papua hanya dikenal di lingkup lokal, tetapi juga mampu tampil dalam percakapan akademik yang lebih luas di kancah internasional,” tegasnya.
Menunggu Proses Seleksi Berjalan
Pendaftaran Dr Faisal menambah dinamika dalam proses penjaringan calon Rektor IAIN Fattahul Muluk Papua masa bakti 2026–2030. Di tengah tahapan seleksi yang masih berlangsung, visi dan misi yang dibawanya menjadi bagian penting untuk dilihat publik, terutama sivitas akademika kampus.
Jika dirangkum, arah kepemimpinan Dr Faisal berfokus pada enam hal besar, yakni penguatan pendidikan tinggi Islam, pengembangan riset berbasis ekoteologi, penguatan peran kampus dalam menjawab kebutuhan masyarakat, moderasi beragama dan dialog lintas budaya, tata kelola profesional berbasis digital, serta perluasan jejaring nasional dan internasional.
Bagi IAIN Fattahul Muluk Papua, gagasan tersebut menjadi tawaran menarik tentang bagaimana kampus Islam di Tanah Papua bisa tumbuh sebagai pusat keilmuan yang modern, inklusif, dan tetap berpijak pada kearifan lokal. Kini, publik tinggal menantikan bagaimana proses seleksi berjalan dan siapa yang nantinya akan dipercaya memimpin kampus tersebut untuk lima tahun ke depan.[]





















