Ankara, Gontornews — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Senin (3/7/2023) mengisyaratkan bahwa negaranya belum siap untuk meratifikasi keanggotaan NATO untuk Swedia. Ia mengatakan Stockholm harus bekerja lebih keras menyelesaikan “pekerjaan rumahnya”.
Berbicara setelah rapat Kabinet, Erdogan juga mengulangi kecamannya terhadap protes pembakaran Al-Qur’an yang terjadi di Swedia pekan lalu, menggambarkan tindakan tersebut sebagai kejahatan rasial terhadap Muslim.
“Kami telah memperjelas bahwa perjuangan yang gigih melawan organisasi teroris dan Islamofobia merupakan garis merah kami,” kata Erdogan dilansir Arabnews.com.
“Semua orang harus menerima bahwa persahabatan dengan Turki tidak dapat diraih dengan mendukung terorisme atau memberi ruang bagi teroris.”
Turki telah menunda memberikan persetujuan akhir untuk keanggotaan Swedia dalam aliansi militer, menuduh negara itu terlalu lunak terhadap demonstrasi dan kelompok anti-Islam yang dianggap Ankara sebagai ancaman keamanan. Ini termasuk kelompok militan Kurdi yang telah mengobarkan pemberontakan mematikan selama puluhan tahun di Turki.
Partai Pekerja Kurdistan atau PKK telah mengobarkan pemberontakan selama 38 tahun melawan Turki yang telah menewaskan puluhan ribu orang. PKK telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa.
NATO ingin melibatkan Swedia pada saat para pemimpin NATO bertemu di Lituania pada 11-12 Juli mendatang, tetapi Erdogan mengatakan Stockholm masih memiliki kewajiban untuk dipenuhi. NATO membutuhkan persetujuan bulat dari semua negara anggota, namun Turki dan Hungaria merupakan negara yang belum meratifikasi tawaran Swedia.
“Alih-alih membuang-buang waktu dengan taktik pengalihkan perhatian, kami yakin menepati janji akan menjadi metode yang lebih rasional dan lebih bermanfaat,” kata Erdogan. “Kami menyarankan mereka untuk meneliti diri mereka sendiri dan mengerjakan pekerjaan rumah mereka dengan lebih baik.”
Dia mengacu pada sebuah memorandum yang ditandatangani Swedia dan Finlandia dengan Turki tahun lalu di mana mereka setuju untuk mengatasi masalah Ankara. Memerangi Islamofobia tidak termasuk dalam memorandum tersebut.
Pekan lalu, polisi Swedia mengizinkan protes di luar masjid di Stockholm pusat dengan alasan kebebasan berbicara setelah pengadilan membatalkan larangan pembakaran Al-Qur’an serupa.
“Serangan keji terhadap kitab suci kami, Al-Qur’an, di Stockholm, ibukota Swedia, membuat kami semua marah,” kata Erdogan. “Pengabaian terhadap perasaan 2 miliar Muslim ini tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar, apalagi kebebasan berpikir.”
Swedia dan Finlandia meninggalkan posisi nonblok militernya untuk mencari perlindungan di bawah payung keamanan NATO, karena khawatir akan menjadi sasaran Moskow setelah Rusia menginvasi Ukraina tahun lalu. Finlandia bergabung dengan NATO awal tahun ini setelah parlemen Turki meratifikasi tawaran negara Nordik tersebut. []





















