New York, Gontornews — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, penarikan kelompok-kelompok radikal telah dimulai dari zona demiliterisasi baru di wilayah Idlib, Suriah.
Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada 25 September ketika berada di New York untuk pertemuan tahunan Majelis Umum PBB, Erdogan mengatakan, Suriah tidak mungkin mencapai perdamaian selama Presiden Suriah, Bashar al-Assad, berkuasa.
Ia juga mengatakan, pengadilan Turki, bukan politisi, akan memutuskan nasib seorang pendeta Amerika, Andrew Brunson yang penahanannya atas tuduhan terorisme telah membuat hubungan antara Ankara dan Washington menegang.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pada 24 September, ia berharap Turki akan membebaskan pendeta evangelis Brunson bulan ini. Dia dipindahkan ke tahanan rumah pada bulan Juli setelah ditahan selama 21 bulan.
“Ini adalah masalah peradilan. Brunson telah ditahan atas dakwaan terorisme … Pada 12 Oktober akan ada sidang lagi dan kami tidak tahu apa yang akan diputuskan pengadilan dan politisi tidak akan mengetahui apa putusan pengadilan,” kata Erdogan seperti dikutip hurriyetdailynews.com.
“Sebagai presiden, saya tidak memiliki hak untuk memerintahkan pembebasannya. Peradilan kami independen. Mari kita tunggu dan lihat apa yang akan diputuskan pengadilan,” kata Erdogan.
“Kasus Brunson bahkan tidak terkait erat dengan ekonomi Turki. Tantangan ekonomi saat ini telah dibesar-besarkan lebih dari yang diperlukan dan Turki akan mengatasi tantangan ini dengan sumber dayanya sendiri,” tambahnya.
Jika terbukti bersalah, Brunson bisa dipenjara hingga 35 tahun. Namun dia membantah tuduhan itu. [Rusdiono Mukri]






















