Bogor, Gontornews – Perbedaan dan friksi yang terjadi di antara golongan umat Islam terjadi karena umat Islam tidak menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai tolok ukur keteladanan.
“Rasulullah tidak hanya teladan kita, tapi juga barometer keteladanan. Tolok ukur keteladanan,” ujar Dr Imam Zamroji dalam kuliah online yang digelar oleh International Institute of Islamic Thought (IIIT) East Asia, Jumat (18/9).
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir itu mengatakan fanatisme golongan muncul karena umat Islam tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai tolok ukur keteladanan. Mereka mempunyai tolok ukur keteladanan yang lain. “Setiap golongan menjadikan pemimpinnya tolok ukur keteladanan,” ujar Imam dalam kuliah bertajuk “Kemuliaan Nabi Muhammad dan Sikap Seorang Muslim Terhadapnya”.
Menurut Imam, setiap golongan atau kelompok boleh saja menjadikan pemimpinnya sebagai teladan. Namun, jangan menjadikannya sebagai barometer keteladanan. “Kita boleh meneladani guru kita, tapi jangan menjadikannya tolok ukur keteladanan,” tandasnya dalam kuliah melalui aplikasi Zoom.
Dengan cara pandang seperti itu, lanjut Imam, kita akan mendekatkan elemen-elemen yang berbeda. Fanatisme golongan akan dapat dicegah. Karena itulah dakwah kepada sesama aktivis Islam sangat diperlukan. “Setiap aktivis Islam harus mau diingatkan atau mengingatkan kepada sesama aktivis.”
Imam menyebutkan, kemuliaan dan kesuksesan Nabi Muhammad SAW telah menjadi realita dalam perjalanan sejarah manusia. Namun realita tersebut disikapi secara beragam. Ada yang menyikapinya dengan ifrath (mengultuskan), dan ada juga yang menyikapinya dengan tafrith (meremehkan) terhadap diri dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.
“Mempelajari kehidupan Nabi shalallahu `alaihi wasallam, baik sebagai hamba Allah maupun utusan-Nya secara seimbang, merupakan jalan yang terbaik agar terhindar dari sifat ifrath dan tafrith,” paparnya.
Keseimbangan dalam memahami yang diikuti dengan sikap yang tepat kepada Rasulullah SAW berdasarkan petunjuk wahyu yakni mahabbah, ittiba’, tha’ah, dan tauhidul uswah akan mendatangkan keridhaan Allah dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.[]




















