Amsterdam, Gontornews – Aksi Islamophobia di dunia Barat semakin nyata. Setelah sebelumnya Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, kini giliran Geert Wilders yang maju dalam pemilihan Perdana Menteri Belanda.
Anggota parlemen Belanda penyusun dan pembuat film Fitna itu menjadi satu dari empat kandidat Perdana Menteri Belanda. Geert Wilders menjadikan slogan “The Netherlands Our Again” sebagai jargon kampanyenya.
Ia dikenal sebagai orang yang sangat membenci Islam. Selain itu, melalui jargon kampanyenya itu, Wilders juga ingin memperkuat identitas Belanda yang amat ‘Belanda’ dan menentang serta melarang hal-hal yang menghilangkan identitas Belanda. Bahkan, ABC News menyebut bahwa Wilders bersiap menjadikan Belanda seperti Inggris yang memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa.
“Dia (Wilders) berbicara tentang identitas Belanda padahal, kami pikir, identitas Belanda terdapat pada nilai-nilai yang ada dalam konstitusi kita. Jika dia mengubahnya, maka secara langsung, dia juga akan mengubah identitas kita (sebagai warga Belanda),” ungkap Direktur sebuah LSM untuk organisasi Islam di Rotterdam, Marianne Vorthoren.
Vorthoren menganggap rencana pelarangan al-Qur’an serta menutup masjid-masjid di Belanda oleh Wilders merupakan perbuatan yang inkonstitusional.
Sementara itu, Konsultan Keuangan Cindy van Kruistum menyebut pencalonan Wilders sebagai kandidat PM Belanda tidak meyakinkan. Terlebih, isu de-islamisasi di Belanda menambah ketidakyakinan masyarakat Belanda terhadap dirinya.
“Saya menyukai (cara kami merayakan) natal, saya menyukai paskah, saya menyukai Santa Claus. Kami memiliki tradisi Belanda dan partai berhaluan kiri ingin membuangnya, seolah-olah (tradisi) berikut tidak pernah ada,” jelas van Kruistum.
Terkait pola de-islamisasi yang dikampanyekannya, van Kruistum tidak sependapat dengan Wilders. Menurutnya, masyarakat Muslim harus mampu beradaptasi dengan kehidupan masyarakat Belanda.
“Aku bukan rasis. Ketika mereka tinggal di sini, mereka harus menerima bagaimana kami, orang Belanda, hidup,” tambahnya.
Selain keduanya, Sjef Schutter, tokoh masyarakat di Rotterdam mengindikasikan adanya ‘Donald Trump baru’ yang akan hadir di Belanda.
“Ini mengerikan. (Ini sebuah) bencana seperti (terpilihnya) Trump,” katanya.
“Ini mengerikan bahwa masyarakat berpendidikan di Belanda bisa sedemikian rendah karena itu yang memang diinginkannya,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan/Rus]




















