Hamburg, Gontornews — Hampir 12 jam setelah gencatan senjata dimulai, bentrokan antara warga Palestina dan polisi Israel terjadi di kompleks Masjid Al-Aqsha di Yerusalem.
Ketika gencatan senjata yang disepakati pada Kamis malam mulai berlaku, baik Israel maupun kelompok Islam Palestina, Hamas, mengklaim kemenangan setelah 11 hari konflik militer.
“Namun, pemenang sebenarnya dari konflik ini Benjamin Netanyahu dan Hamas,” kata Profesor Eckart Woertz, direktur Institut Jerman untuk Studi Global dan Area (GIGA) di Hamburg, seperti dikutip dw.com.
Dalam kasus Netanyahu, kata Woertz, intervensi militer telah mengalihkan fokus dari ketidakmampuannya untuk membangun pemerintahan baru setelah pemilu keempat negara itu yang tidak meyakinkan dalam dua tahun. Perang juga telah menunda pengadilan korupsi terhadapnya.
Dan Hamas, berbeda dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, telah mampu menampilkan dirinya sebagai penjaga kepentingan Palestina di Tepi Barat dan dalam perselisihan intra-Palestina, kata Woertz.
Citra Abbas ambruk
Hal yang sebaliknya terjadi pada diri Abbas. Ini karena para pemain internasional mulai mempertimbangkan negosiasi langsung atau tidak langsung dengan Hamas, meskipun Hamas digolongkan sebagai organisasi teroris oleh pemerintah Jerman, Uni Eropa, AS, dan sejumlah negara Arab.
Bahkan Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan setelah gencatan senjata Kamis malam bahwa perlu untuk mempertahankan kontak tidak langsung dengan Hamas.
Bagaimanapun, satu hal yang sangat jelas: Abbas, yang menunda pemilihan Palestina untuk pertama kalinya dalam lebih dari 15 tahun pada akhir April tahun ini, tampil lebih lemah dari sebelumnya dalam operasi militer ini.
Sejumlah media Arab dan surat kabar Israel menggambarkan Abbas sebagai “pecundang terbesar.” Mereka mengatakan bahwa dia telah kehilangan perhatian bahkan dari orang-orang Palestina sendiri. Banyak komunitas internasional tidak lagi melihatnya sebagai pemimpin yang berpengaruh dalam konflik Israel-Palestina ini.
Implikasi regional dan internasional
Salah satu pemenang regional dari krisis Gaza ialah Mesir. Perannya dalam menengahi konflik akan meningkatkan cara pandang AS terhadap Mesir sebagai pemain kekuatan regional di masa depan. Banyak media massa Mesir cukup yakin akan hal itu.
Yasser al-Hudaibi, wakil ketua partai liberal nasional Al-Wafd ,dan profesor hukum konstitusional dan hak asasi manusia, mengatakan kepada media pemerintah bahwa dia sangat yakin bahwa Mesir telah menjadi panutan dalam menangani masalah Palestina.
Sementara Neil Quilliam, dari lembaga pemikir yang berbasis di London, Chatham House, mengatakan: “Saya pikir yang paling dapat dikatakan pada saat ini bahwa Mesir sekali lagi menunjukkan kemampuannya untuk meningkatkan hubungannya dengan Israel, meskipun terbatas.”
Namun masih harus dilihat apakah aliansi Arab, yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, akan mempertahankan hubungan diplomatik dan ekonomi mereka dengannya.
“Meskipun Perjanjian Abraham baru-baru ini dibentuk, sekarang tidak realistis untuk mengasumsikan pendalaman lebih lanjut hubungan Arab-Israel tanpa menyelesaikan masalah Palestina sebelumnya,” kata Woertz.
Di tingkat global, 11 hari terakhir telah menempatkan diskusi tentang solusi dua negara kembali menjadi fokus perhatian. Hanya beberapa menit setelah gencatan senjata diberlakukan, Presiden AS Joe Biden men-tweet: “Saya percaya bahwa Palestina dan Israel sama-sama berhak untuk hidup dalam keselamatan dan keamanan dan untuk menikmati kebebasan, kemakmuran, dan demokrasi yang setara.”
Biden lebih lanjut berjanji bahwa “Pemerintahan saya akan melanjutkan diplomasi diam-diam dan tanpa henti ke arah itu.”
Terlepas dari masalah politik, seperti biasa, warga sipil yang paling menanggung risiko dari konflik Hamas-Israel.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), situasi kemanusiaan di Jalur Gaza sangat sulit: 71.232 orang telah terlantar di daerah kantong Palestina itu. Korban tewas di Gaza mencapai 243 pada hari Jumat (21/5), sementara 13 orang di Israel tewas akibat pertempuran itu.
“Yang kalah perang ialah warga sipil di kedua pihak,” kata Woertz.
Situasi di Israel semakin diperburuk oleh tingkat ketegangan domestik yang sampai sekarang tidak terlihat antara orang-orang Yahudi Israel dan Arab Israel yang telah membawa negara itu mendekati perang saudara.[]






















