Jombang, Gontornews – Pimpinan pondok pesantren Tebu Ireng, KH Sholahuddin Wahid, menyebut bahwa program deradikalisasi yang dicanangkan pemerintah belum berhasil. Gus Sholah, sapaan akrabnya, menganggap program tersebut belum berhasil mencegah kemunculan sikap dan perilaku radikal di tengah masyarakat.
“Santoso yang (melakukan teror) di Poso itu juga merupakan hasil program deradikalisasi yang tidak berhasil,” ungkap KH Salahuddin Wahid dalam Sarasehan Bela Negara yang berlangsung di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (7/4) sebagaimana dilansir nu.or.id
Lebih lanjut, Gus Sholah menjabarkan sejumlah faktor kegagalan program deradikalisasi, diantaranya: program deradikalisasi bersifat insidental, belum adanya instrumen khusus dalam penanganan teroris dan buruknya perlakuan terhadap pelaku terorisme.
“Penjahat tidak mengenal kata jera. Demikian juga para pelaku terorisme. Sejumlah pelaku terorisme yang keluar dari penjara ternyata kembali melakukan aksi serupa setelah keluar dari penjara.”
“Saat narapidana menjalani asimilasi dan cuti menjelang bebas, BNPT masih melakukan monitoring secara terbuka, sehingga mengganggu para napi,” tandasnya.
Terkait kegagalan program deradikalisasi, Gus Sholah menyarankan bebarapa hal salah satunya adalah dengan memberikan pengalaman serta pelatihan bagi napi agar bermanfaat bagi masyarakat secara langsung.
“Mereka tidak kembali ke tengah masyarakat dari titik nol, tapi dari titik minus. Karena itu, harus mendapatkan dukungan dari semua pihak,” pungkas adik kandung Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid ini. [Mohamad Deny Irawan]




















