Jakarta, Gontornews — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong masyarakat untuk memiliki sikap toleransi dalam menghadapi tahun politik. Ketua MUI bidang dakwah dan ukhuwwah, KH Cholil Nafis menjelaskan potensi politisasi dan populisme agama sangat besar di tahun politik.
“Perbedaan itu suatu niscaya. Tidak mungkin kita tidak berbeda. Tetapi bagaimana cara kita dalam menyikapi perbedaan. Perbedaan kita toleransi dan penyimpangan kita amputasi,” kata Kiai Cholil saat berbicara dalam Silaturahim dan Halaqoh Ulama yang diselenggarakan oleh MUI DKI Jakarta, Selasa (25/07/2023).
Kiai Cholil menyontohkan isu perbedaan agama yang kerap terjadi sebelum dan sesudah pemilihan umum. Kiai kelahiran Madura itu menjelaskan tolernsi yang ia maksud berada pada taraf pemahaman keagamaan. Selama tidak menyangkut hal yang prinsip, maka perbedaan itu tidak dipermasalahkan.
“Ini (toleransi) yang harus kita bangun bersama. Di mana perbedaan dapat ditoleransi dan penyimpangan diamputasi,” sambungnya sebagaimana dilansir MUI Digital.
Toleransi tersebut, lanjut Kiai Cholil, dapat dibangun dengan membiasakan sikap persatuan dan kerukunan di antara sesama. Ada empat hal yang diperlukan untuk menyikapi keberagaman temasuk pilihan politik: 1) saling mengenal dengan sesama (ta’aruf); 2) saling memahami perbedaan masing-masing (tafahum); 3) saling membantu kepada kebutuhan masing-masing (ta’awun) dan; 4) saling memberikan jaminan (Takaful).
“Kalau ini kita sepakati, republik ini bisa dijaga ukhuwah dalam kebhinekaan,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]


















