Sampang, Gontornews — Sering kali dalam menjalani kehidupan, hati manusia dirundung rasa kesedihan, keterpurukan, amarah, bahkan perasaan putus asa akibat perlakuan buruk orang lain, atau dikarenakan impian yang selama ini diharapkan tidak berlaku sebagaimana kenyataan yang ada. Lalu bagaimana sikap seorang hamba apabila keadaan semacam itu sedang menimpanya?
Perlu diketahui bahwa sesungguhnya kesusahan hati yang mendalam juga pernah dirasakan oleh Rasulullah SAW dalam berdakwah, yaitu saat beliau mendapatkan penolakan yang sangat buruk dari kaum musyrikin dalam bentuk hinaan, caci maki, fitnah, bahkan dilempari batu sampai beliau terluka cukup parah. Tidak hanya sampai di situ, intimidasi tersebut semakin meningkat luar biasa setelah beliau ditinggal oleh sosok paman yang selalu melindungi dan membelanya dari kekejaman perilaku kaum kafir Quraisy dari luar, dan ditambah dengan perginya sosok pendamping hidup yang senantiasa ada untuk menghibur dan meneguhkan batin beliau dari dalam. Kepergian keduanya menyebabkan beban kesedihan yang dipikul serta kesempitan hati yang dialami terasa semakin berat.
Terkait beban yang memberatkan pundak Rasulullah SAW, Profesor M Quraish Shihab menjelaskan bahwa sesungguhnya beban paling berat yang dirasakan beliau kala itu adalah beban psikologis yang diakibatkan oleh keadaan masyarakat jahiliyah yang berada dalam jurang kebinasaan akibat perlakuan buruk serta penolakan keras mereka terhadap dakwah Nabi SAW, yang semakin memuncak setelah meninggalnya Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah.
Di sisi lain, Rasulullah pada waktu itu belum mengetahui apa jalan keluar yang tepat yang bisa dilakukan agar risalah yang beliau sampaikan bisa diterima kaumnya. “Beban batin inilah yang kemudian melatarbelakangi turunnya al-Qur’an Surah Alam Nasyrah sebagai penenang hati, sekaligus motivasi bagi Nabi dalam menjalankan tugas mulia, yakni menyebarkan agama Allah SWT kepada umat manusia, khususnya kepada penduduk Mekah kala itu,” terang Dr Ihwan Agustono.
Dosen Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor ini pun menjelaskan bahwa QS. Alam Nasyrah, Al-Insyirah, atau Asy-Syarh menurut pendapat sementara ulama adalah surat kedua belas yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, apabila dilihat dari urutan turunnya wahyu. Surat ini sendiri memiliki arti kelapangan.
Secara etimologi, nama surat ini terambil dari akar kata sya-ra-ha yang bisa diartikan melapangkan. Kata-kata ini bisa juga dimaknai memotong, memutus, dan membedah. Makna terakhir inilah yang dijadikan landasan oleh sebagian kecil ulama yang lebih memilih mengartikannya sebagai membedah daripada melapangkan.
“Ini merujuk pada peristiwa dibedah serta disucikannya hati Nabi SAW oleh para malaikat yang menurut riwayat ulama Sirah terjadi sebanyak tiga kali, yakni saat beliau berumur empat tahun, sebelum beliau menerima wahyu, dan yang terakhir ketika hendak naik ke langit pada peristiwa Isra’ Mi’raj,” tekan Dr Agus.
Namun pemaknaan ini terkesan lemah karena dalam Bahasa Arab modern sendiri, kata-kata yang lebih tepat untuk “membedah dan mengoperasi” adalah syar-ra-ha, bukan sya-ra-ha. Selain itu, dalam al-Qur’an kata sya-ra-ha yang disebut dalam banyak ayatnya lebih mengandung arti lapang atau melapangkan. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Thaha ayat 25, “Ya Allah, lapangkanlah dadaku (Rabb isyrahlii shadrii), mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka bisa memahami perkataanku.”
Adapun yang dimaksud dengan dada dalam ayat ini adalah kalbu (hati). Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hajj ayat 46 yang berbunyi, “…karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada (al-quluubul latii fis shuduur).” Dalam konteks psikologi Islam, fungsi pertama dari hati manusia adalah sebagai wadah. Dari sudut pandang ini, hati akan berperan sebagai tempat bersemayamnya perasaan yang merefleksikan berbagai keadaan yang terjadi dalam diri, seperti bahagia, syukur, sedih, haru, kecewa, amarah, putus asa, dan lain sebagainya.
Maka apabila Allah telah berkehendak memperluas wadah tersebut, maka ia akan tumbuh menjadi hati yang kuat dan tidak mudah terganggu dengan berbagai godaan dan keburukan. Sebaliknya semakin sempit wadah hati yang dimiliki, maka semakin mudah pula ia merasakan kesedihan, kekhawatiran, kesempitan, dan perasaan-perasaan kontraproduktif lainnya di saat datangnya perlakuan buruk dari orang lain, atau ketika harapan yang dicita-citakan tidak sesuai dengan kenyataan.
Hal ini yang menjelaskan hakikat dari letak kesedihan yang sedang dirasakan oleh Nabi SAW saat itu, sekaligus menerangkan bagaimana cara Allah menghilangkan kesedihannya yaitu dengan semakin melapangkan hati Rasul.
Diriwayatkan dari mufassirin bahwa menjelang turunnya QS. Alam Nasyrah ini, Allah SWT menjadikan dada Rasulullah SAW yang sebelumnya dipenuhi dengan kesedihan dan kesempitan yang amat berat menjadi sedemikian lapang, jiwanya juga sedemikian tenang, sehingga Allah SWT mengingatkan beliau kembali tentang anugerah tersebut pada awal surah ini.
Anugerah tersebut disempurnakan oleh Allah SWT dengan dihilangkannya beban yang sangat memberatkan pundak Nabi kala itu bersamaan dengan pewahyuan Surat Alam Nasyrah. Hal ini tergambar jelas dalam dua ayat pertama dari surah ini, yang berbunyi, “Alam nasyrah laka shadrak. Wa wadha’naa ‘anka wizrak.” (Bukankah kami telah lapangkan untukmu wadah hatimu. Dan kami telah hilangkan bagimu beban beratmu).
Selain berperan sebagai wadah, hati manusia juga perlu untuk terus digali dan dibersihkan dari berbagai kotoran yang melekat padanya. Ibarat sebuah proses menemukan mata air, semakin kita menggali dan membersihkannya dari kotoran, bebatuan, pasir, dan genangan air keruh yang ada, maka darinya akan memancar sumber mata air yang jernih dan bermanfaat bagi umat manusia, yaitu mata air ilmu pengetahuan. “Inilah lanjutan penjelasan dari fungsi kedua, yaitu hati sebagai sumber ilmu pengetahuan manusia yang untuk menggapainya harus ditempuh dengan upaya Tazkiyatun Nafs,” lanjut alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2005 itu.
Maka, sebagai bagian dari solusi atas pertanyaan di paragraf awal tulisan ini, dikutip dari kitab Khazinatul Asrar, bab tentang hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan QS. Ad-Dhuha dan Alam Nasyrah, penulis kitab menyebutkan bahwa diantara keutamaan yang didapat bagi siapa saja yang membaca serta merenungi kandungan surat ini adalah Allah SWT akan melapangkan dadanya, menghilangkan kesempitan hatinya, dan mengangkat kesulitan yang sedang memberatkannya dalam berbagai urusan, serta akan membukakan pintu-pintu rejeki dengan izin-Nya.
Pada halaman 195 dari kitab ini, penulis juga menukil sebuah hadits yang artinya, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membaca Surat Alam Nasyrah, maka seolah-olah ia telah mendatangiku, sedangkan aku sedang dalam keadaan bersedih, kemudian ia dapat membahagiakanku dengan kehadirannya tersebut.”
Sebagai penutup, adalah sebuah keharusan bagi seorang yang beriman untuk senantiasa berlatih melapangkan wadah hatinya dalam menghadapi segala keadaan hidup. Hal ini karena kelapangan hati adalah tanda dari seorang hamba bahwa ia telah mendapatkan petunjuk dari Allah. “Sebagaimana kesempitan dan sesaknya hati adalah tanda tidak adanya petunjuk di dalam hati,” pungkas Dr Ihwan. [Edithya Miranti]
Biodata Singkat Penulis
Nama Lengkap : Dr H Ihwan Agustono SFilI MFilI
Tempat Tanggal Lahir : Kediri, 5 Mei 1985
Alumni : Gontor Tahun 2005
Istri : Vivin Maimunah Lc MHI
Pendidikan :
- S1, Aqidah Filsafat, Institut Studi Islam Darussalam Gontor, 2010.
- S2, Filsafat Agama, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2014.
- S3, Dirasah Islamiyah, UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2018.
Organisasi :
- Sekretaris Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor Cabang Madura.
- Sekretaris Majelis Khirriji Al-Haromain As-Syarifain Korda Sampang (Organisasi Ikatan Alumni Mekah & Madinah).
Karya Tulis :
- Buku, Tarjamah Muujazah li al-Imaam as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maaliki al-Hasani Rahimahullah Ta’alaa (Tahun 2022).
- Buku, Silsilatu Taraajimi Ulamaa’ al-Haramain: Fadhilatu al-Alaamah as-Syaikh Ahmad bin Jaabir bin Saalim bin Jubraan Rahimahullah Ta’aala (Tahun 2020).





















